KONTEKS
Surah Al-Kautsar mengingatkan kita:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu
nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah.”
Nikmat yang banyak itu bukan hanya harta, kedudukan, atau kesehatan — meliputi segala kebaikan yang terus mengalir.
Cara mensyukurinya?
Lewat Sholat yang murni untuk-Nya dan Juga Berkorban, Berkorban tidak hanya ternak juga berkorban dengan
memotong ego serta keinginan duniawi yang menghalangi kita dekat dengan-Nya.
Namun sering
terjadi dalam implementasi : saat kita ingin menutup Tabir /Layar dunia dengan melakukan untuk sholat, pikiran terus
terganggu. begitu juga Saat berniat memotong ego, ego malah makin memberontak.
Hasilnya terasa “setengah-setengah kayaknya nggak serius . Mengapa bisa begitu? Jawabannya ada pada
cara pandang dan perspektif kita.
Segelas Air yang Bernilai Seluruh Dunia
Suatu ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid melintasi gurun pasir yang terik. Persediaan airnya habis, ia sangat kehausan hingga nyawanya terasa terancam. Saat bertemu orang yang memiliki air, ia berkata:
“Aku berikan sepertiga seluruh hartaku hanya
untuk segelas air ini.”
Sebelum menyerahkan air, orang itu bertanya:
“Kalau air ini kau
minum, nanti tubuh akan mengolahnya menjadi plasma darah, energi, media katalis proses metabolisme, keringat, dan
menjaga nyawamu tetap hidup — bukan hanya keluar begitu saja. Berapa lagi harta yang akan kau berikan agar
proses ini tetap berjalan sempurna?”
Harun
Ar-Rasyid menjawab mantap:
“Kalau begitu, aku
rela serahkan seluruh kekayaanku, kekuasaanku, bahkan seluruh dunia yang
kumiliki — asalkan nikmat ini tetap terjaga.”
Di situlah kita baru
sadar: sesuatu yang terlihat biasa saja, nilainya bisa melampaui seluruh isi
dunia saat kita benar-benar membutuhkannya.
Pola Pikir: Dari
Mengamati Hingga Bersyukur
Tuhan mengajarkan
satu jalur batin yang sama berulang kali: semuanya bermula dari Iqra’ —
membaca, mengamati, mengenali — lalu dilanjutkan dengan empat langkah:
✅ Af’alahu Aqilun → Menggunakan akal untuk melihat fakta yang ada
✅ Tafakkurun → Berpikir mendalam: Dari
siapa ini? Kenapa bisa ada?
✅ Tadabburun → Merenung makna dan hakikat
di baliknya
✅ Tasyaakurun Hati sadar, lalu lahir rasa
syukur dalam ucapan dan perbuatan
Bahkan satu frasa sederhana seperti Maliki
Yaumiddin dan Maliki An-Nas pun bisa terasa sangat dalam jika dilalui pola ini:
Maliki
An-Nas: Dialah yang mengatur napas, detak jantung, dan segala proses kehidupan
yang tak bia dibeli dengan harta apa pun.
- Maliki
Yaumiddin: Dialah satu-satunya Hakim dan Pemilik hari pembalasan, tempat segala
urusan akhirnya dikembalikan.
Inilah yang membuat kita mengerti: dunia ini
indah, tapi tidak kekal. Allah Maha Memberi, dan Dialah satu-satunya tempat
kembali.
Mencintai
Dunia dan Akhirat, Tanpa Harus Memilih
Dunia ini sungguh indah. Tidak heran
banyak orang mencintainya sepenuh hati. Ada yang bilang, cinta sebagian besar
hati tertuju pada dunia, dan hanya sepersepuluhnya untuk akhirat. Padahal jalan
yang paling seimbang dan sempurna adalah mencintai keduanya dengan porsi dan
tempat yang benar — bukan memilih salah satu, melainkan menjadikan satu sebagai
sarana dan yang lain sebagai tujuan akhir.
Seperti kata pepatah yang terasa
sangat pas:
“Ketika kamu menginginkan dan menikmati dunia,
bayangkanlah akhirat. Ketika kamu mengingat kematian dan mempersiapkan bekal,
teruslah ingin hidup dengan penuh semangat.”
Dunia bukanlah musuh bagi orang beriman,
melainkan ladang tempat bercocok tanam. Setiap nikmat yang kita rasakan — mulai
dari segelas air, udara yang dihirup, makanan yang enak, hingga kesempatan
berkarya — jika kita lalui dengan pola pikir yang benar, maka keindahan dunia
tidak akan menjerumuskan, melainkan mengantarkan kita semakin dekat kepada Sang
Pemberi nikmat.
Kenapa Anak Muda Jarang Terlihat di Masjid
ataupun Tempat ibadah lainnya ?
Sering kita lihat
kenyataan ini: di masjid atau tempat ibadah yang jamaahnya bisa mencapai
seratus orang, jumlah anak mudanya mungkin hanya sekitar sepuluh orang saja.
Kalau dipikir-pikir, ada saja alasannya.
Ada pandangan yang sudah terbentuk lama:
“Masjid atau Gereja itu tempatnya orang tua yang sudah dekat ajal, yang
urusannya cuma persiapan mati. Sedangkan dunia ini milik anak muda, yang
usianya masih 20, 30, sampai 40 tahun — masih panjang sampai nanti tua di usia
70 atau 80 tahun. Urusan akhirat bisa ditunda saja nanti.”
Bahkan kadang jadi lelucon sendiri: “Kalau
lihat orang tua rajin ke masjid, pasti lagi sibuk nyiapin mati ya?” Lalu
tertawa bersama.
Tapi coba kita renungkan lagi. Pola hidupnya
seringkali begini: dimanja waktu kecil, hura-hura saat remaja, terus
berfoya-foya saat dewasa, makin banyak harta makin meluas kesenangannya, sampai
tua pun masih terus menjalani pola yang sama. Sampai akhirnya dipanggil pulang,
dan baru sadar bahwa tidak ada satu pun dari kesenangan dunia itu yang bisa
dibawa.
Maka lelucon itu bisa menjadi pengingat halus:
memikirkan akhirat bukan berarti menghentikan kesenangan dunia, dan menikmati
dunia tidak berarti harus menunda persiapan pulang.
Penutup
Jalan yang paling indah adalah menjadikan
cinta dunia sebagai kendaraan, dan cinta akhirat sebagai tujuan. Nikmatilah
keindahan ciptaan-Nya, jalani pekerjaan dan aktivitas dengan semangat, makan
dan minumlah yang halal dan baik — tapi selalu ingat: semua ini adalah titipan.
Dengan pola pikir Iqra’ → Tafakkur → Tadabbur
→ Tasyaakur, segala hal jadi jelas:
- Dunia terasa lebih bermakna, bukan sekadar
dikejar tanpa arah
- Ibadah terasa
lebih ringan, karena kita sadar siapa yang sedang kita hadapi
- Ego lebih mudah
dikendalikan, karena kita tahu segala sesuatu akan kembali kepada Pemiliknya
Maka jadikanlah hidup ini sebagai perjalanan yang indah: nikmati perjalanannya, persiapkan tempat tinggalmu, dan sebarkanlah pemahaman ini agar makin banyak yang sadar — kita bisa bahagia di dunia, dan juga bahagia di akhirat.



