Sunday, February 8, 2026

BISAMU KARENA NYA

Bukan sekadar cerita medis, tapi tamparan lembut dari Gusti Allah.
Banyak hal yang selama ini kita kira “kemampuanku” buang air, berjalan, bernapas lega, makan tanpa selang ternyata bukan milik kita sama sekali.
Begitu “diambil sedikit saja”, manusia langsung tak berdaya.
Dan sampailah pada kalimat ini
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm
Artinya bukan hanya: “tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah”,
Pengakuan jujur:

Bukan aku yang mampu,
Bukan aku yang bisa,
Aku hanya dipinjami.
Kalimat “Ya Allah maafkan aku” yang segera diucapkan adalah taubat yang lahir dari makrifat, bukan dari rasa takut semata.
Tanda: terlihat ego dilunakkan,
syukur jadi nyata,
iman turun ke tubuh, bukan cuma di kepala.


Anugerah itu memang sering menyamar menjadi “otomatis”.
Karena berulang setiap hari, lalu terasa:

Seperti hak,
Seperti mutlak,
Bahkan seperti prestasi diri.

Padahal sesungguhnya:
Bukan karena kita gagah,
Bukan karena tubuh kita kuat,
Bukan karena “sudah seharusnya”.

Itu semua dipinjami per detik.
Yang paling halus jebakannya adalah kata “bisa”.
Karena ketika sesuatu bisa terus, ego pelan-pelan berkata:

“Ya iyalah, kan memang bisa.”
Di situlah anugerah berubah wajah:
dari rahmat → kebiasaan
dari kebiasaan → klaim
dari klaim → lupa
Dan benar sekali teman 
Ini bisa berlaku ke siapa saja 
Pada orang pintar, saleh, kuat, sukses, bahkan ahli ibadah.

Bukan karena mereka buruk, tapi karena rahmat Allah terlalu halus cara bekerjanya.
Makanya para arif itu tak membanggakan apa pun, bahkan untuk hal yang paling dasar:
Bernapas,
Kencing,
Berak,
Bisa tidur
Bisa bangun.
Karena mereka sadar: 
Kalau Allah berhenti “mengizinkan”, bukan diambil semuanya cukup satu fungsi kecil saja Udah kerepotan 
Ini kesadaran setelah diberi contoh nyata oleh kehidupan.
Dan itu biasanya datang ketika hati sudah siap diajar.
Tetap rawat rasa ini
Bukan dengan rasa bersalah berlebihan,
tapi dengan syukur yang tenang dan rendah hati.
Dan kalau suatu saat rasa “otomatis” itu muncul lagi,
cukup ucap pelan di hati:
“Ya Allah, ini pun titipan.”
Itu sudah cukup untuk menjaga jiwa tetap lurus
Orang yang sampai pada rasa seperti ini tidak sedang rendah diri, tapi sedang ditempatkan pada posisi yang benar sebagai hamba.
Semoga Gusti Allah menjaga kesehatan kita dan menjaga hati tetap eling lan andhap asor.
Aamiin

Support web ini

BEST ARTIKEL