Monday, March 29, 2010

CACING PITA CESTODA



Ciri Cestoda

  • Cestoda adalah salah satu contoh kelas dari Phyllum Platyhelminthes 
  • Cestida ini adalah Vermes atau Cacing yang lapisan embryonalnya Sudah bertipe Triploblastik namun masih Triploblastik Acoelomata (triploblastik yang tidak berongga artinya kelika pembentukan embryonya Zygot sudah membelah membelah membentuk sekumpulan sel yang mempunyai tiga lapisan yaitu ektoderm , Mesodrm dan endoderm namun di bagian dalam endoderm biasanyaterbentuk rongga pada Cestoda ini tidak berongga maka bentuk cacing ini pipih OK  
  • Cestoda adalah cacing yang berbentuk pipih seperti pita yang merupakan endoparasit dan dikenal sebagai cacing pita (lihat gambar). 
  • Cacing dewasa hidup dalam usus Vertebrata dan larvanya hidup di jaringan vertebrata dan invetebrata pada dagingnya dalam bentuk Cysticercus yang bisa berpindah ke manusia 
  • Semua anggota Cacing kelompok Cestoda memiliki struktur pipih dan tertutup oleh kutikula ( zat lilin) sehingga tidak terhidrolis oleh enzim pencernaan 
  • Cestoda disebut sebagai Cacing pita karena anggotanya berupa cacing yang bentuknya pipih panjang seperti pita.
  • CESTODA (Cacing Pita) terlihat secara morfologi : Tubuhnya terdiri dari rangkaian segmen-segmen yang masing-masing disebut Proglottid. Kepala disebut Skoleks dan memiliki alat isap (Sucker) yang memiliki kait (Rostelum) terbuat dari kitin khususnya pada cacing pita babi . 
  • Pembentukan segmen (segmentasi) pada cacing pita disebut Strobilasi. 
  • Tubuhnya Cacing pita (Cestoda) memiliki tubuh bentuk pipih, panjang antara 2 - 3 m dan terdiri dari bagian kepala (skoleks) dan tubuh (strobila). 
  • Kepala (skoleks) dilengkapi dengan lebih dari dua alat pengisap. Sedangkan setiap segmen yang menyusun strobila mengandung alat perkembangbiakan berupa testes dan ovarium . Makin ke posterior segmen makin melebar dan setiap segmen (proglotid) merupakan satu individu dan bersifat hermafrodit.
  • Cacing ini biasanya hidup sebagai parasit dalam usus vertebrata dan tanpa alat pencernaan.
  • Contoh : Taenia solium Cacing pita manusia Menyebabkan Taeniasis solium. Pada skoleknya terdapat kait-kait sebagai alat pengisap yang matang menjadi alat reproduksinya. Memiliki hospes perantara Babi
  • Skoleks pada jenis Cestoda tertentu (Taenia solium ) selain memiliki alat pengisap, juga memiliki kait (rostelum)
  • Rostellum berfungsi untuk melekat pada organ tubuh inangnya.
  • Dibelakang skoleks pada bagian leher terbentuk proglotid.
  • Setiap proglotid mengandung organ kelamin jantan (testis) dan organ kelamin betina (ovarium).
  • Tiap proglotid dapat terjadi fertilisasi sendiri.dan mempunyai rumah tangga sendiri ( metameri)


  • Makin ke posterior segmen makin melebar dan setiap segmen (proglotid) merupakan satu individu dan bersifat hermafrodit.
  • Proglotid yang dibuahi ( yang matang ) terdapat di bagian posterior / paling bawah tubuh cacing.
  • Proglotid dapat melepaskan diri (strobilasi) dan keluar dari tubuh inang utama bersama dengan tinja.
  • Cacing ini biasanya hidup sebagai parasit dalam usus vertebrata dan tanpa alat pencernaan.
-->Sistem eksresi terdiri dari saluran pengeluaran yang berakhir dengan sel api.




  • Sistem saraf sama seperti Planaria dan cacing hati, tetapi kurang berkembang.
  • Cestoda bersifat parasit karena menyerap sari makanan melalui permukaan tubuhnya secara osmosis
  • Penyerapan sari makanan terjadi dari usus halus inangnya melalui seluruh permukaan proglotid
  • Jadi sari makanan diserap langsung oleh seluruh permukaan tubuhnya karena cacing ini tidak memiliki mulut dan system pencernaan , skolex hanya untuk menempelkan dirinya ke usus
  • Manusia dapat terinfeksi Cestoda saat memakan daging hewan yang dimasak tidak sempurna, belum matang
  • Daging hewan hospes ( inang perantara ) yang mengandung Cysticercus
  • Inang pernatara Cestoda adalah hewan ternak misalnya Sapi yang tubuhnya terdapat Cisticercus jenis Taenia saginata yang ada pada ototnya dan Babi yang tubuhnya terdapat Cisticercus jenis Taenia solium yang ada pada ototnya.
  • di Kedua ternak itu Cacing pita hanya sementara terjadi cyclus ditubuhnya hingga membentuk Cysticercus
  • Jadi di sapi dan babi tidak dijumpai dala bentuk Dewasa ( yang dewasa di tubuh manusia) hanya bentuk larva
  • di Ternak berurutan cyclusnya : Telur - Oncosfer - Hexacant - Cysticercus ( T-O-H-C),
  • T-O-H-ada di Ususnya dan C(cysticercus) meninggalkan usus ke otot( daging )
  • Agar kita tidak kena Taeniasis ini dimasak yang matang dagingnya, dan manusia yang kena Taeniasis janganbuang air besar ke lingkungan , karena Faecesnya yang ada telurnya sangat kuat di lingkungan yang mungkin di rumput 
  • Siklus hidup cestoda, Proglottid Masak (terdapat dalam feses) bila tertelan oleh babi Þ Embrio Heksakan, menembus usus dan melepaskan kait-kaitnya Larva Sistiserkus (dalam otot lurik babi) tertelan manusia Cacing dewasa. 
  • Taenia saginata Cacing pita manusia. Menyebabkan Taeniasis saginata. Pada skoleknya tidak terdapat kait-kait. Memiliki hospes perantara Sapi. Daur hidup Taenia saginata sama dengan Taenia solium. 
  • Diphyllobothrium latum, Menyebabkan Diphyllobothriasis. Parasit pada manusia dengan hospes perantara berupa katak sawah (Rana cancrivora), ikan dan Cyclops. Echinococcus granulosus Cacing pita pada anjing
  • Himenolepis nana :Cacing pita yang hidup dalam usus manusia dan tikus. Tidak memiliki hospes perantara.
  • pemberian obat anti cacing sangat dianjurkan. Obat-obatan ini bisa diminum golongan obat anticacing albendazole dosis sehari 500 mg lebih baik , biasanya dosis 250 cacing mati dalam bentuk utuh
  • -->Contoh cacing golongan Cestoda ini adalah
    1. Taenia saginata (dalam usus manusia) di bawa oleh sapi
    2. Taenia solium (dalam usus manusia) dibawa oleh babi
    3. Choanotaenia infudibulum (dalam usus ayam)
    4. Echinococcus granulosus (dalam usus anjing)
    5. Diphyllobothrium latum (menyerang manusia melalui inang katak , ikan, Cyclops Udang udangan)
    6. Hymnelopsis nana ( di usus manusia , tikus tanpa inang perantara)

    -->
    Taenia solium
    • Taenia solium dewasa hidup parasit pada saluran pencernaan manusia (usus).
    • Inang perantaranya (hospes intermediet) adalah babi.
    • Tubuhnya berbentuk pipih, ukuran panjang tubuhnya dapat mencapai 3m.
    • struktur tubuh cacing ini terdiri atas kepala (skoles) dan rangkaian segmen yang masing-masing disebut proglotid.
    • Pada bagian kepala terdapat 4 alat isap (Rostrum) dan alat kait (Rostellum) yang dapat melukai dinding usus.
    • Disebelah belakang skoleks terdapat leher/daerah perpanjangan (strobilus).


    Taenia saginata
    • Taenia saginata dewasa hidup sebagai parasit dalam usus manusia.
    • Cacing ini masuk kedalam tubuh manusia melalui perantara sapi (sebagai hospes intermediet).
    • Skoleks taenia saginata terdapatrostrum tetapi tidak mempunyai Rostelum (kait).
    • Jenis cacing ini kurang berbahaya bagi manusia dibandingkan taenia solium.

    Gejala atau tanda terinfeksi cacing pita antara lain :
    • perut terasa mulas dan mual,
    • kadang perih dan tajam menusuk-nusuk tetapi akan hilang sesudah makan
    • Selain itu muka pucat
    • sering pusing
    • kurang nafsu makan
    • feses berlendir


    PERBANDINGAN MORFOLOGI CACING PITA
    Diphyllobothrium latum
    • Merupakan jenis cacing pita yang hidup sebagai parasit pada manusia, anjing, kucing dan serigala.
    • Sebagai inang perantaranya adalah katak sawah (Rana cancrivora), ikan dan Cyclops.
    • Menyebabkan Diphyllobothriasis.
    • Daerah penyebarannya meliputi wilayah eropa, afrika, amerika utara dan jepang.
    Echinococcus granulosus
    • Jenis cacing pita berukuran kecil (berkisar antara 3-6mm) dan hidup sebagai parasit pada usus anjing liar / serigala dan karnivora lainnya.
    • Inang perantaranya adalah babi, biri-biri dan manusia.
    • Daerah penyebaran utama Australia, argentina dan pulau es.
    • Terlihat bahwa oncosfer yang berkembang menjadi Cysticercus di Biri biri (herbivora) dimakan sama hewan carnivora sehingga di tubuh Carnivora ( anjing / serigala ) menjadi cacing pita dewasa. cacing pita dewasa yang berada di tubuh carnivora akan melepaskan proglotidnya yang mengandung telur yang mature ke lapangan/ rumput untuk dimakan kembali hewan herbivora. OK
    Hymnelopsis nana
    • Jenis cacing pita kerdil yang hidup sebagai parasit pada manusia dan tikus.
    • Daerah penyebarannya meliputi seluruh dunia
    • Tanpa inang perantara

    Jadi

    • Manusia yang Ususnya terdapat cacing pita dewasa , di usus halusnya itu dipastikan Cacing pita tersebut pada Proglotid segmen terakhir yang masak “mature” banyak mengandung telur yang sudah dibuahi membentuk Zygot.
    • Dimana telur yang ada di Proglotid itu dilepaskan (Fragmentasi) sehingga mengikuti sisa makanan ke usus besar dan ke anus .
    • Telur yang berada bersama kotoran itu bisa bertahan selama berhari-hari atau berbulan bulan di lingkungannya .
    • Vegetasi yang ada di lingkungan misalnya rumput yang terkontaminasi oleh kotoran yang berisi proglotid berisi telur itu bila termakan oleh ternak ( Babi , Sapi) maka masukklah telur tersebut ke pencernaaan nya
    • Dalam usus ternak telur tergesek sehinngga menetas membentuk larva yang disebut Oncospheres
    • Oncosfer segera tumbuh membentuk larva Hexacant ( larva dengan 6 kait yang tajam)
    • Hexacant menginvasi dinding usus, dan bermigrasi ke otot lurik ( daging)
    • Di jaringan Otot ( daging) itulah larva bertahan membentuk cacing gelembung yang disebut Cysticercus
    • Sebuah cysticercus dapat bertahan hidup selama beberapa tahun di daging Ternak.
    • Manusia terinfeksi karena menelan mentah atau setengah matang daging yang terinfeksi / di dalamnya ada Cysticercusnya .
    • Dalam usus manusia Cysticercus berkembang lebih dari 2 bulan menjadi cacing pita dewasa , yang dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun.
    • Cacing pita dewasa melekat pada usus halus dengan Scolexnya { kepala) dan scolex mereka berada menancap di dinding usus halus
    • Panjang cacing dewasa Taenia saginata bisa mencapai sampai 25 m, sedang T. solium lebih pendek
    • Proglottids atau bagian segment nya dari cacing pita bagian posterior yang paling belakang ( paling dewasa) menghasilkan telur yang matang,



    • Proglotid itu kemudian dilepaskan dari cacing pita, dan bermigrasi ke usus besar , bersama kotoran segera le anus (sekitar 6 per hari) begitu seterusnya


    Sunday, March 28, 2010

    UJI GLUCOSA- BENEDICT


    PRAKTIKUM UJI GLUKOSA
    Tujuan:
    1. Melakukan uji reduksi karbohidrat.
    2. Melakukan uji Benedict.
    Alat dan bahan;

    Uji reduksi

    Bahan percobaan
    • larutan glukosa 1%
    Pereaksi; 
    1. larutan CuSO4 1%
    2. larutan NaOH 10%
    3. larutan Na-sitrat
    Alat;
    1. tabung reaksi
    2. bunsen
    3. timbangan
    4. pemanas
    Uji benedict
    Bahan; 
    1. Larutan glukosa 1%
    2. Larutan sukrosa 1%
    3. Larutan laktosa 1%
    4. Larutan pati 1%
    Alat 
    1. Gelas ukur
    2. Pemanas
    3. Tabung reakasi
    4. Timbangan
    • Pereksi reagen benedict: larutkan 34,6 gr Na-sitrat + 20 gr Na-karbonat dalam 180 ml air
    • Aduk dan saring. 
    • Kemudin tambahkan larutan 3,46 gr CuSO4 dalam 20 ml air. Genapkan menjadi 200 ml.
    Teori Singkat
    • Mosakarida segera mereduksi sneyawa-senyawa pengoksidasi seperti ferisianida, hydrogen peroksida, atau ion cupri (Cu2+). 
    • Pada reaksi sepreti ini, guka dioksidasi pada gugus karbonil, dan senyawa pengoksidasi menjadi tereduksi dimana senyawa-senyawa pereduksi adalah pemberi electron dan senyawa pengoksidasi adalah penerima electron. 
    • Glukosa dan gula-gula lain yang mampu mereduksi senyawa pengoksidasi disebut gula pereduksi. Sifat ini berguna dalam analisis gula. 
    • Dengan mengukur jumlah dari senyawa pengoksidasi yang tereduksi oleh suatu larutan gula tertentu, dapat dilakukan dengan pendugaan konsentrasi gula. 
    • Gula yang mengandung gugus aldehid atau keton bebas mereduksi indicator-indikator seprti kompleks ion kupri (Cu2+) menjadi bentuk kupro (Cu+). 
    • Bahan pereduksi pada reaksi-reaksi ini adalah bentuk rantai terbuka aldosa dan ketosa. 
    • Ujung peruduksi dari suatu gula adalah ujung yang mengandung ggus aldehida atau keto bebas.
    Benedict Reagen 

    • Benedict Reagen  digunakan untuk mentes atau memeriksa kehadiran gula monosakarida dalam suatu cairan. 
    • Monosakarida bersifat redutor, dengan diteteskannya Reagen akan menimbulkan endapan merah bata. 
    • Selain menguji kualitas, secara kasar juga berlaku secara kuantitatif, karena semakin banyak gula dalam larutan maka semakin gelap warna endapan.
     Benedict Reagen


    langkah Kerja
    Uji Reduksi
    1. Disiapakan tiga tabung A, B, C.
    2. Kedalam tabung A dimasukan 2 ml CuSO4 1% dan 2 ml NaOH 10%
    3. Ke dalam tabung B dimasukan 2 ml CuSO4 1% dan 2 ml NaOH 10% dan tambahkan 5 tetes glukosa 1%
    4. Ke dalam tabung C dimasukamn larutan seperti pada tabung A dan tambahkan larutan Na-Sitrat 30% sampai endapan larut.
    5. Panaskan ke-3 tabung tersebut kedalam air mendidih dan perhatikan perubahan yang terjadi.
    6. Ke dalam tabung C ditambahakan beberapa tetes larutan glukosa 1% dan selanjutnya dipanaskan kembali, dicacat hasilnya.
    Uji Benedict
    1. Disiapkan empat tabung reksi yang yang nantinya akan isi dengan glukosa 1%, sukrosa 1%, laktosa 1%, larutan pati 1%.\
    2. Kedalam seluruh tabung reaksi di masukan 5 ml reagen benedict dan 8 tetes larutan percobaan, lalu campur merata.
    3. Perhatikan warna yang terjadi serta ada tidaknya pembentukan endapan.
    Hasil Pengamatan

    Hasil pengamatan percobaan adalah sebagai berikut;
    Uji Reduksi
    Sebelum dipanaskan

    Tabung reaksi
    Hasil reaksi yang terjadi
    Tabung A
    Berwarna biru, terdapat endapan
    Tabung B
    Berwarna biru, terdapat endapan
    Tabung C sebelum ditambah glukosa
    Berwarna biru
    Tabung C setalah ditambah glukosa dan dipanaskan
    -

    Hasil Percobaan 

    • Pada uji Glukosa, yaitu larutan gula yang ditambahkan dengan luff dan melalui proses pembakaran terjadi warna oranye yang menunjukkan bahwa gula mengandung glukosa. Namun jika perbandingn antara air dan gula tidak sesuai akan terjadi warna hijau yang artinya kadar glukosanya rendah.

    larutan gula saat dibakar





    larutan gula setelah dibakar

    BERIKUT JUGA DISAJIKAN UJI SENYAWA ORGANIK LAINNYA

    UJi Terhadap Karbohidrat

    Uji Molisch
    R: 10g α-naftol/100ml etilalkohol 95%
    U: 2ml S + 2ml R+ 5ml H2SO4→Hijau (+)

    Uji Antron
    R: 0,2g antron/80ml asam sulfat P
    U: 0,2ml S/krtas saring + 2ml R + asam astet glasial/asam sulfat P (susu)→Hijau (+)

    Uji Benedict
    R: 175g Kristal natrium sitrat&100g natrium karbonat anhidros/800ml air→+ 17,3g koper sulfat/100ml→e 1L
    U: 5ml R + 8 tetes S → 3 menit Hijau (+)

    Uji Barfoed
    R: 13,3g Kristal koper asetat/200ml air→saring+ 1,9ml as.glasial
    U: 3ml R+ 1ml S→ 1 menit Hijau (+)

    Uji Fearon
    R: -
    U: 4ml S + 3-4 tetes metilamin HCl→didih 30 men + 4 tetes NaOH 20%→H (disk→Merah)

    Uji Selliwanoff
    R: 0,05g resorsini/100ml HCl
    U: 3ml R + 3 tetes S → didih Hijau (+)

    Uji Foulger
    R: 2g stanno Cl dlm 49g urea/80ml H2SO4 40% (v/v)
    U: 2ml S + 1ml HCl P + 1 R → panas Hijau (+)

    Uji Fenilhidrazin
    R: 2g Fenilhidrazin HCl/30ml air + 3g natrium asetat anhidrous
    U: 2ml S + 5ml R → panas kristal dlm larutan→ mikroskopik Hijau (+)

    Uji Iodin
    R: 10g kalium iodida/1L air + 2,5g iodin
    U: 3ml amilum 2 tetes air/HCl/NaOH + 1 tetes R→ panas-dingin Hijau (+)

    Ket: S = Sampel
    R = Reagen
    U = Uji

    UJI PROTEIN

    TEORI SINGKAT PROTEIN
    • Protein merupakan biopolymer polipeptida yang tersusun dari sejumlah asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida. 
    • Protein merupakan biopolymer yang multifungsi, yaitu sebagai struktural pada sel maupun jaringan dan organ, sebagai enzim suatu biokatalis, sebagai pengemban atau pembawa senyawa atau zat ketika melalui biomembran sel, dan sebagai zat pengatur.
    • Protein juga merupakan makromolekul yang paling berlimpah di dalam sel dan menyusun lebih dari setengah berat kering pada hampir semua organisme. Protein merupakan instrumen yang mengekspresikan informasi genetik.

    Protein mempunyai fungsi unik bagi tubuh, antara lain

    1. Menyediakan bahan-bahan yang penting peranannya untuk pertumbuhan dan memelihara jaringan tubuh,
    2. Mengatur kelangsungan proses di dalam tubuh,
    3. Memberi tenaga jika keperluannya tidak dapat dipenuhi oleh karbohidrat dan lemak.

    • Ada berbagai cara dalam pengujian terhadap protein yaitu dengan reaksi uji asam amino dan reaksi uji protein. 
    • Reaksi uji asam amino sendiri terdiri dari 6 macam uji yaitu: uji millon, uji hopkins cole, uji belerang, uji xantroproteat, dan uji biuret. 
    • Sedangkan untuk uji protein, berdasarkan pada pengendapan oleh garam, pengendapan oleh logam dan alkohol. Serta uji koagulasi dan denaturasi protein.
    • Pada uji asam amino terdapat uji bersifat umum dan uji bersifat uji berdasakan jenis asam aminonya. 
    • Seperti halnya uji millon bersifat spesifik terhadap tirosin, uji Hopkins cole terhadap triptofan, uji belerang terhadap sistein, uji biuret bereaksi positif terhadap pembentukan senyawa kompleks Cu gugus –CO dan –NH dari rantai peptida dalam suasana basa. 
    • Serta uji xantroproteat bereaksi positif untuk asam amino yang mengandung inti benzena.
    • Asam amino merupakan unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap ujungnya. 
    • Protein tersusun dari atom C, H, O, dan N, serta kadang-kadang P dan S. 
    • Dari keseluruhan asam amino yang terdapat di alam hanya 20 asam amino yang yang biasa dijumpai pada protein.
    Struktur molekul asam amino
    • Dari struktur umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya, yaitu gugus amino dan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar. 
    • Gugus amino dan gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat spesifiknya. 
    • Karena asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya.
    Reaksi uji asam amino meliputi :

    1. Uji Millon
    2. Hopkins-Cole.
    3. Uji Ninhidrin
    4. Uji belerang.
    5. Uji Xanthoproteat
    6. Uji Biuret
    1. UJI MILLON

    • Sebanyak 5 tetes pereaksi Millon ditambahkan ke dalam 3 mL larutan protein, dipanaskan. 
    • Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.

    2.UJI HOPKINS-COLE
    • Sebanyak 2 mL larutan protein dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole dalam tabung reaksi. 
    • Ditambahkan 3 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung sehingga membentuk lapisan dari cairan. 
    • Didiamkan, setelah beberapa detik akan terbentuk cincin violet (ungu) pada pertemuan kedua lapisan cairan, apabila positif mengandung triptofan. 
    • Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.

    3.UJI NINHIDRIN
    • Sebanyak 0.5 mL larutan ninhidrin 0.1% ditambahkan ke dalam 3 mL larutan protein.
    •  Dipanaskan selama 10 menit, diamati perubahan warna yang terjadi. 
    • Uji dilakukan terhadap larutan albumin 0.02%, gelatin 0.02%, kasein 0.02%, dan pepton 0.02%.

    4. UJI BELERANG
    • Sebanyak 2 mL larutan protein ditambah 5 mL NaOH 10%, dipanaskan selama 5 menit. 
    • Kemudian ditambah 2 tetes larutan Pb-asetat 5%, pemanasan dilanjutkan, diamati warna yang terjadi.
    • Uji dilakukan terhadap larutan albumin 0.02%, gelatin 0.02%, kasein 0.02%, dan pepton 0.02%.

    5. UJI XANTHOPROTEAT
    • Sebanyak 2 mL larutan protein ditambahkan 1 mL HNO3 pekat, dicampur, kemudian dipanaskan, diamati timbulnya warna kuning tua. 
    • Didinginkan, ditambahkan tetes demi tetes larutan NaOH pekat sampai larutan menjadi basa. 
    • Diamati perubahan yang terjadi. 
    • Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.

    6. UJI BIURET
    • Sebanyak 3 mL larutan protein ditambah 1 mL NaOH 10% dan dikocok. 
    • Ditambahkan 1-3 tetes larutan CuSO4 0.1%. 
    • Diamati timbulnya warna.
    • Salah satu cara untuk mengantisipasi masalah kekurangan kalori protein yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi pangan yang beraneka ragam. 
    • Dengan konsumsi bahan pangan yang beraneka ragam, maka kekurangan zat gizi dari satu jenis zat pangan akan dilengkapi oleh gizi dari pangan lainnya. 
    • Kualitas protein dalam suatu bahan makanan dapat diketahui dengan melakukan pengujian. 
    • Salah satu metode untuk mengevaluasi nilai gizi protein adalah secara in vivo.
    • Pada pengendapan protein oleh logam, oleh garam, oleh alkohol, uji koagulasi dan denaturasi protein. 
    • Kedalam 3 ml albumin ditambahkan 5 tetes larutan HgCl2 2%, percobaan diulangi dengan larutan Pb-asetat 5%, dan AgNO3 5%. 
    • Sepuluh ml larutan protein dijenuhkan dengan amonium sulfat yang ditambahkan sedikit demi sedikit, kemudian diaduk hingga mencapai titik jenuh dan disaring. 
    • Lalu diuji kelarutannnya dengan ditambahkan air, untuk endapan diuji dengan pereaksi Millon dan filtrat dengan pereaksi biuret. 
    • Ditambahkan 2 tetes asam asetat 1 M ke dalam tabung yang berisi 5 ml larutan protein, kemudian tabung tersebut diletakkan dalam air mendidih selama 5 menit. 
    • Lalu diambil endapan dengan batang pengaduk, untuk endapan diuji kelarutannya dengan air , sementara endapan dengan pereaksi Millon. 
    • Disiapkan 3 tabung reaksi, tabung pertama diisi campuran sebagai berikut ; 5 ml larutan albumin, 1 ml HCl 0,1 M dan 6 ml etanol 95%. Ke dalam tabung kedua dimasukkan5 ml larutan albumin, 1 ml NaOH 0,1 M dan 6 ml etanol 95%. Ke dalam tabung ketiga 5 ml larutan albumin, 1 ml buffer asetat ph 4,7 dan 6 ml etanol 95%.


    Secara sistematis berikut langkahnya
    Uji Milon
    • R : Merkuri dan ion merkuro yang dalam as nitrat as nitrit
    • Warna yg terbentuk : Garam merkuri dari tirosina yang termitrasi
    • R: 10 g merkuri+ 20 ml as nitrat p,bila telah melarut dan uap coklat hilang, kemudian ditambahkan 60 ml air kemudian disimpan
    • Larutan protein : albumin 1:5
    • U: 5 tetes reagen pada 3 ml larutan protein, dipanaskan campuran, jika reagen tll byk maka warna hilang pada pemanasan


     





     Uji Hopkins Cole
    • R: R Hopkins Cole mengandung as glioksalat, larutan protein, H2SO4 p
    • U: Dalam 2 ml larutan protein ditambahkan dengan 2 ml reagen Hopkins Cole, kemudian perlahan ditambahkan 5ml H2SO4 melalui dinding tabung, amati warna yang terbentuk pada batas kedua cincin;jika perlu diputar perlahan sampai terbentuk cincin berwarna. (+) cincin berwarna
    Uji Ninhidrin (Triketohidrindene hidrat)
    • R: Larutan ninhidrin 0,1%, larutan protein
    • U: Tambahkan 0,5 ml larutan ninhidrin 0,1% pada 3 ml larutan protein, kemudian dipanaskan hingga mendidih,ulangi dengan menggunakan glisina. (+) ungu

    R: Reagen
    U: Uji

    ANALISIS
    • Kali ini saya pingin sharing mengenai praktikum biologi untuk menguji kandungan bahan makanan
    • Salam praktek bahan dan prosedurnya sangat variatif. Yang penting perhatikan hasilnya saja.

    Tujuan

    Menguji kandungan karbohidrat, gula, protein, dan lemak, pada jenis makanan tertentu.

    Alat dan Bahan

    1. Tabung reaksi
    2. Pipet
    3. Pemanas air/water batch
    4. Bunsen
    5. Mortar dan alat tumbuk
    6. Larutan Benedict / Fehling A / Fehling B
    7. Larutan Iodine / kalium iodide
    8. Larutan Biuret / Millon / Mollisch
    9. Larutan NaOH 30%
    10. Larutan HNO3 pekat
    11. Sudan III / kertas buram
    12. Bahan makanan: tahu, tempe, pisang, roti, mentega, dan mie yang telah ditumbuk halus, lalu dimasukkan ke dalam air

    Langkah Kerja

    1. Uji Benedict / Fehling A / Fehling B (uji gula / monosakarida)
    Masukkan 5 ml reagen Benedict ke dalam tabung reaksi, kemudian tambahkan 0,5 ml larutan hasil penggerusan bahan makanan! Panaskan tabung dalam water bath (70 °C) selama 5 menit lalu dinginkan! Amatilah perubahan yang terjadi dalam tabung! Bila dalam makanan terdapat karbohidrat/gula, maka terbentuk endapan merah bata.
    2. Uji Iodin (uji karbohidrat / amilum)
    Masukkan 5 ml larutan hasil penggerusan bahan makanan karbohidrat/amilum ke dalam tabung reaksi! Tambahkan dua tetes larutan Iod dan amati perubahan yang terjadi dalam tabung! Bila larutan warna berubah menjadi hitam atau kebiruan, maka bahan makanan yang diuji mengandung karbohidrat.
    3. Uji Biuret (protein)
    Tambahkan 2 ml larutan biuret (larutan KOH 5 % + larutan CUSO4 5 %) kedalam larutan putih telur. Terjadi perubahan warna larutan putih telur menjadi ungu. Perubahan warna ungu pada larutan putih telur menunjukkan larutan tersebut mengandung protein
    Jika menggunakan Millon: tambahkan 2 ml larutan millon kedalan 2 ml larutan putih telur. Panaskan larutan dalam air mendidih. Terjadi perubahan warna larutan putih telur menjadi merah. Perubahan warna larutan menjadi merah menunjukkan larutan putih telur mengandung protein
    4. Tes kandungan lemak
    Teteskan 3 tetes minyak di atas kertas saring/kertas buram. Kertas saring menjadi transparan. Itu bukti kandungan lemak/minyak.
    Jika menggunakan Sudan III: Tambahkan 2 ml larutan sudan III kedalam larutan minyak. Terbentuk lapisan berwarna merah pada permukaan larutan. Lapisan berwarna merah pada permukaan larutan menunjukkan kandungan lemak dalam larutan
    Selamat mencoba!

    CATATAN TAMBAHAN GLUCOSA

    • Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. 
    • Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. 
    • Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri pangan.
    • Glukosa (C6H12O6, berat molekul 180.18) adalah heksosa—monosakarida yang mengandung enam atom karbon. 
    • Glukosa merupakan aldehida (mengandung gugus -CHO). 
    • Lima karbon dan satu oksigennya membentuk cincin yang disebut "cincin piranosa", bentuk paling stabil untuk aldosa berkabon enam. 
    • Dalam cincin ini, tiap karbon terikat pada gugus samping hidroksil dan hidrogen kecuali atom kelimanya, yang terikat pada atom karbon keenam di luar cincin, membentuk suatu gugus CH2OH. 
    • Struktur cincin ini berada dalam kesetimbangan dengan bentuk yang lebih reaktif, yang proporsinya 0.0026% pada pH 7.
    • Glukosa merupakan sumber tenaga yang terdapat di mana-mana dalam biologi. Kita dapat menduga alasan mengapa glukosa, dan bukan monosakarida lain seperti fruktosa, begitu banyak digunakan. 
    • Glukosa dapat dibentuk dari formaldehida pada keadaan abiotik, sehingga akan mudah tersedia bagi sistem biokimia primitif. 
    • Hal yang lebih penting bagi organisme tingkat atas adalah kecenderungan glukosa, dibandingkan dengan gula heksosa lainnya, yang tidak mudah bereaksi secara nonspesifik dengan gugus amino suatu protein. 
    • Reaksi ini (glikosilasi) mereduksi atau bahkan merusak fungsi berbagai enzim. 
    • Rendahnya laju glikosilasi ini dikarenakan glukosa yang kebanyakan berada dalam isomer siklik yang kurang reaktif



    Support web ini

    BEST ARTIKEL