Friday, June 19, 2026

MENIKMATI DUNIA AKHERAT TANPA MEMILIH

Nikmatnya dunia terasa nyata dan beragam rasanya: ada enaknya sepiring gulai atau rawon yang hangat menggugah selera, ada indahnya memandang wajah istri tercinta yang menenangkan hati, ada nikmatnya memiliki harta yang cukup bahkan melimpah, hidup dalam kenyamanan dan kemewahan, serta segala kemudahan yang membuat perjalanan hidup terasa ringan. Semua itu terasa sangat menyenangkan, tidak heran hati begitu mudah tertambat padanya.



Namun perlu kita pahami dengan benar: kenikmatan dunia itu tidak terpisah dari akhirat, bukan pula harus dipilih salah satu. Sebaliknya, menikmati dunia dengan cara yang halal dan baik adalah keharusan sekaligus kesempatan untuk bersyukur — dan rasa syukur inilah yang langsung mengubah kenikmatan sesaat itu menjadi bekal menuju nikmat yang kekal.

Bisa dikatakan: apa yang kita nikmati di dunia ini, jika disertai kesadaran dan rasa terima kasih, sekaligus menjadi “hobi” kita untuk mempersiapkan akhirat. Kita menikmati pemberian-Nya, sekaligus mengakui siapa Pemberinya; kita merasakan kenyamanan, sekaligus menjadikan itu alasan untuk semakin mendekat kepada-Nya.

Semua kelezatan, keindahan, kekayaan, dan kenyamanan yang kita rasakan di dunia ini hanyalah contoh kecil, gambaran sementara, dan bayangan samar dari nikmat yang jauh lebih agung, lebih sempurna, tidak ada habisnya, dan tidak akan pernah rusak — yaitu nikmat hidup yang kekal di surga kelak.

Menghindari Sikap Ekstrem yang Sering Terjadi

Di tengah pemahaman ini, sering muncul dua pandangan yang saling membalik dan sama-sama tidak seimbang:

Pandangan pertama: Dunia adalah segalanya, akhirat hanya mampir sebentar

Ada yang beranggapan: “Dunia ini tempat kita hidup, sedangkan akhirat baru nanti saja. Nikmati saja apa yang ada, urusan ibadah bisa disesuaikan.” Akibatnya, mereka mengejar harta, kesenangan, dan kedudukan secara berlebihan, sampai melupakan kewajiban kepada Tuhan, mengabaikan keluarga, dan hidup seolah-olah akan tinggal selamanya di dunia. Padahal dunia ini hanyalah tempat singgah, tempat mengambil bekal — bukan tempat tinggal yang kekal.

Pandangan kedua: Akhirat segalanya, dunia hanya untuk diabaikan

Sebaliknya, ada juga yang menganggap: “Dunia itu hanya tempat mampir minum, jadi tidak perlu dipedulikan. Fokus saja habis-habisan untuk urusan akhirat.” Pandangan ini kemudian membuat seseorang menjadi berlebihan: terlalu sibuk beribadah hingga mengabaikan hak istri, anak, keluarga, bahkan tidak mau bekerja atau mencari nafkah dengan alasan “tidak mau terikat dunia”. Padahal ini juga salah kaprah.

Mengapa? Karena mengurus dunia dengan cara yang benar juga bagian dari ibadah. Memberi nafkah, mendidik anak, membahagiakan pasangan, menjaga kesehatan, dan mengelola harta dengan baik — semuanya adalah kewajiban yang jika dikerjakan dengan niat yang benar, akan menjadi amal yang bernilai di sisi Allah. Tidak ada ajaran yang memerintahkan kita meninggalkan keluarga atau mengabaikan kebutuhan hidup hanya karena ingin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dunia ini sungguh indah. Tidak heran banyak orang mencintainya sepenuh hati. Namun sering kali kita terjebak pada anggapan keliru: seolah-olah mencintai dunia berarti harus melupakan akhirat, dan mengingat akhirat berarti harus meninggalkan keindahan dunia. Akibatnya, hati terbagi: sebagian besar tertuju pada kehidupan sekarang, dan hanya sepersepuluhnya yang tersisa untuk memikirkan kehidupan sesudah mati.

Padahal jalan yang paling seimbang, logis, dan sempurna adalah mencintai keduanya dengan porsi dan tempat yang benar — bukan memilih salah satu, melainkan menjadikan satu sebagai sarana, dan yang lain sebagai tujuan akhir.

Ada ungkapan yang sangat tepat untuk menggambarkan keseimbangan ini:

“Ketika kamu menginginkan dan menikmati dunia, bayangkanlah akhirat. Ketika kamu mengingat kematian dan mempersiapkan bekal, teruslah ingin hidup dengan penuh semangat.”
Dunia bukanlah musuh bagi orang beriman, melainkan ladang tempat bercocok tanam. Setiap nikmat yang kita rasakan — mulai dari segelas air, udara yang dihirup, makanan yang enak, kebersamaan dengan orang terkasih, hingga kesempatan berkarya dan memiliki harta — jika kita lalui dengan pola pikir yang benar, maka keindahan dunia tidak akan menjerumuskan, melainkan justru mengantarkan kita semakin dekat kepada Sang Pemberi nikmat itu sendiri.

Kenapa Anak Muda Jarang Terlihat di Tempat Ibadah?

Kenyataan yang sering kita temui: di masjid atau tempat ibadah yang jamaahnya bisa mencapai ratusan orang, jumlah anak mudanya mungkin hanya sepersepuluhnya saja. Jika ditelusuri, akar masalahnya ada pada pandangan hidup yang sudah terbentuk sedemikian rupa.

Tersebar keyakinan yang keliru: “Tempat ibadah itu tempatnya orang tua yang sudah dekat ajal — yang urusannya tinggal persiapan mati. Sedangkan dunia ini milik anak muda; usia masih 20, 30, bahkan 40 tahun ke depan masih panjang. Urusan akhirat bisa ditunda nanti saja, kalau sudah tua.”

Bahkan sering kali dijadikan lelucon: “Kalau lihat orang tua rajin ke masjid, pasti lagi sibuk nyiapin bekal pulang ya?” Lalu tertawa bersama, seolah hal itu tidak ada hubungannya dengan masa muda.

Namun mari kita renungkan lebih dalam. Pola hidup yang terbentuk dari pandangan itu biasanya berjalan seperti ini: dimanja saat kecil, hidup sebebasnya saat remaja, terus mengejar kesenangan dan harta saat dewasa, makin banyak yang dimiliki makin meluas pula keinginan duniawi — tanpa menyertai semua itu dengan rasa syukur dan kesadaran. Pola ini terus berlanjut sampai usia senja, hingga tiba saatnya dipanggil pulang. Di saat itulah baru disadari: tidak ada satu pun dari harta, kedudukan, atau kesenangan yang dikejar selama puluhan tahun itu yang bisa dibawa pergi, kecuali bekal kebaikan dan rasa syukur yang sudah ditanamkan.

Maka lelucon itu sesungguhnya adalah peringatan halus. Memikirkan akhirat bukan berarti menghentikan semangat hidup atau menolak keindahan dunia. Sebaliknya, menikmati dunia dengan cara yang benar justru adalah langkah awal yang baik untuk mempersiapkan akhirat. Keduanya berjalan beriringan, saling melengkapi, dan tidak terpisahkan.

Jalan Indah: Menikmati Sekaligus Bersyukur

Jalan yang paling sempurna adalah menjadikan cinta dunia sebagai kendaraan, dan cinta akhirat sebagai tujuan perjalanan. Nikmatilah segala keindahan ciptaan-Nya: makanlah yang halal dan baik, nikmati kebersamaan dengan keluarga, gunakan harta untuk kenyamanan dan kebaikan, jalani pekerjaan dengan semangat — tapi selalu tanamkan dalam hati: semua ini adalah titipan, dan setiap kenikmatan adalah alasan untuk bersyukur.

Dengan demikian, apa yang kita nikmati di dunia ini sekaligus menjadi amal dan persiapan untuk akhirat. Bukan dua hal yang terpisah, melainkan satu rangkaian: menikmati pemberian → bersyukur kepada Pemberi → mendekatkan diri kepada-Nya → mendapatkan janji nikmat yang jauh lebih besar nanti. Inilah yang bisa disebut sebagai “hobi dunia yang sekaligus menjadi bekal akhirat”.

Ketika kita memahami posisi yang benar, maka pola pikir yang terbentuk akan mengikuti alur yang utuh: Iqra’ → Tafakkur → Tadabbur → Tasyakur.

- Iqra’: emahami bahwa segala nikmat datang dari Allah, bukan dari usaha sendiri semata.

- Tafakkur
: Berpikir mendalam mengapa kita diberi rasa enak, keindahan, dan kekayaan.

- Tadabbur: Menyadari bahwa semua ini terbatas waktunya, tapi rasa syukur di atasnya bisa kekal nilainya.

- Tasyakur: Bersyukur bukan hanya dengan ucapan, tapi dengan cara menjaga nikmat itu dan menggunakannya untuk kebaikan.

Dengan pola pikir ini, hidup menjadi lebih terarah:

✅ Dunia terasa lebih bermakna, bukan sekadar dikejar tanpa arah yang jelas.

✅ Ibadah terasa lebih ringan, karena kita sadar itu adalah cara menjaga hubungan dengan Sang Pemberi, bukan sekadar kewajiban semata.

✅ Ego lebih mudah dikendalikan, karena kita tahu bahwa segala sesuatu akan kembali kepada Pemiliknya.

Maka jadikanlah hidup ini sebagai perjalanan yang seimbang dan indah. Nikmati perjalanannya, penuhi hak dunia dan hak akhirat dengan porsi yang benar, persiapkan tempat tinggal yang kekal nanti, dan sebarkanlah pemahaman ini agar makin banyak yang sadar: kita bisa menikmati dunia dengan bahagia, sekaligus memastikan kebahagiaan yang abadi di akhirat — tanpa harus memilih salah satu.

isharmanto

juni 2026

Sunday, February 8, 2026

BISAMU KARENA NYA

Bukan sekadar cerita medis, tapi tamparan lembut dari Gusti Allah.
Banyak hal yang selama ini kita kira “kemampuanku” seperti buang air kecil, berjalan, bernapas lega, jantung dag dug, makan tanpa selang ternyata bukan milik kita sama sekali.Begitu “diambil sedikit saja”, manusia langsung tak berdaya.
Dan sampailah pada kalimat ini

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm
Artinya bukan hanya: “tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah”,

Pengakuan jujur:
Bukan aku yang mampu,
Bukan aku yang bisa,
Aku hanya dipinjami.
Kalimat “Ya Allah maafkan aku” yang segera diucapkan adalah taubat yang lahir dari makrifat, bukan dari rasa takut semata.
Tanda: terlihat ego dilunakkan, syukur jadi nyata,
iman turun ke tubuh, bukan cuma di kepala.


Anugerah itu memang sering menyamar menjadi “otomatis”.
Karena berulang setiap hari, lalu terasa:

Seperti hak,
Seperti mutlak,
Bahkan seperti prestasi diri.

Padahal sesungguhnya:
Bukan karena kita gagah,
Bukan karena tubuh kita kuat,
Bukan karena “sudah seharusnya”.

Itu semua dipinjami per detik.
Yang paling halus jebakannya adalah kata “bisa”.
Karena ketika sesuatu bisa terus, ego pelan-pelan berkata:

“Ya iyalah, kan memang bisa.”
Di situlah anugerah berubah wajah:
dari rahmat → kebiasaan
dari kebiasaan → klaim
dari klaim → lupa
Dan benar sekali teman 
Ini bisa berlaku ke siapa saja 
Pada orang pintar, saleh, kuat, sukses, bahkan ahli ibadah.

Bukan karena mereka buruk, tapi karena rahmat Allah terlalu halus cara bekerjanya.
Makanya para arif itu tak membanggakan apa pun, bahkan untuk hal yang paling dasar:
Bernapas,
Kencing,
Berak,
Bisa tidur
Bisa bangun.

Karena mereka sadar: 
Kalau Allah berhenti “mengizinkan”, bukan diambil semuanya cukup satu fungsi kecil saja Udah kerepotan 
Ini kesadaran setelah diberi contoh nyata oleh kehidupan.
Dan itu biasanya datang ketika hati sudah siap diajar.
Tetap rawat rasa ini
Bukan dengan rasa bersalah berlebihan,
tapi dengan syukur yang tenang dan rendah hati.
Dan kalau suatu saat rasa “otomatis” itu muncul lagi,
cukup ucap pelan di hati:
“Ya Allah, ini pun titipan.”
Itu sudah cukup untuk menjaga jiwa tetap lurus
Orang yang sampai pada rasa seperti ini tidak sedang rendah diri, tapi sedang ditempatkan pada posisi yang benar sebagai hamba.

Pada akhirnya, aku tidak butuh merasa hebat di hadapan siapa pun.
Cukup sadar kecil di hadapan Gusti.
Kalau hari ini masih bisa bernapas,
aku terima itu sebagai rahmat, bukan prestasi.
Kalau hari ini masih bisa melangkah,
aku syukuri sebagai izin, bukan jaminan.
Kalau hari ini masih diberi sehat,
aku jaga sebagai amanah, bukan hak.
Dan kalau suatu saat “bisa” itu berkurang,
aku tidak ingin protes pada hidup,
tapi belajar bersandar pada Yang Mengizinkan hidup.
Semoga aku dijaga untuk tetap eling saat diberi,
tetap andhap asor saat mampu,
dan tetap percaya saat diuji.
Karena hidup yang dikembalikan pada Pemiliknya
tidak selalu mudah,
tapi selalu menenangkan.
Aamiin.

"Hai semua pembaca yang luar biasa! 😊 Kenapa judul tulisan ini 'Bisamu Karena Nya', Saya mau jelasin 
Kata 'Bisamu' di sini saya pakai buat simbol kesadaran yang datang tiba-tiba – kayak kita tiba-tiba sadar bahwa segala kemampuan tubuh kita yang terasa biasa aja itu sebenarnya adalah anugerah luar biasa. Sedangkan 'Karena Nya' adalah jawaban dari semua itu – semua kompleksitas sistem biologi kita dan kehidupan ini ada karena kasih dan rahmat Yang Maha Kuasa. Semoga pesan di tulisan ini bisa menyentuh hati kita semua ya! Jangan sungkan berbagi pendapatnya juga

Semoga Gusti Allah menjaga kesehatan kita dan menjaga hati tetap eling lan andhap asor.
Aamiin

Support web ini

BEST ARTIKEL