Sunday, March 28, 2010

UJI GLUCOSA- BENEDICT


PRAKTIKUM UJI GLUKOSA
Tujuan:
  1. Melakukan uji reduksi karbohidrat.
  2. Melakukan uji Benedict.
Alat dan bahan;

Uji reduksi

Bahan percobaan
  • larutan glukosa 1%
Pereaksi; 
  1. larutan CuSO4 1%
  2. larutan NaOH 10%
  3. larutan Na-sitrat
Alat;
  1. tabung reaksi
  2. bunsen
  3. timbangan
  4. pemanas
Uji benedict
Bahan; 
  1. Larutan glukosa 1%
  2. Larutan sukrosa 1%
  3. Larutan laktosa 1%
  4. Larutan pati 1%
Alat 
  1. Gelas ukur
  2. Pemanas
  3. Tabung reakasi
  4. Timbangan
  • Pereksi reagen benedict: larutkan 34,6 gr Na-sitrat + 20 gr Na-karbonat dalam 180 ml air
  • Aduk dan saring. 
  • Kemudin tambahkan larutan 3,46 gr CuSO4 dalam 20 ml air. Genapkan menjadi 200 ml.
Teori Singkat
  • Mosakarida segera mereduksi sneyawa-senyawa pengoksidasi seperti ferisianida, hydrogen peroksida, atau ion cupri (Cu2+). 
  • Pada reaksi sepreti ini, guka dioksidasi pada gugus karbonil, dan senyawa pengoksidasi menjadi tereduksi dimana senyawa-senyawa pereduksi adalah pemberi electron dan senyawa pengoksidasi adalah penerima electron. 
  • Glukosa dan gula-gula lain yang mampu mereduksi senyawa pengoksidasi disebut gula pereduksi. Sifat ini berguna dalam analisis gula. 
  • Dengan mengukur jumlah dari senyawa pengoksidasi yang tereduksi oleh suatu larutan gula tertentu, dapat dilakukan dengan pendugaan konsentrasi gula. 
  • Gula yang mengandung gugus aldehid atau keton bebas mereduksi indicator-indikator seprti kompleks ion kupri (Cu2+) menjadi bentuk kupro (Cu+). 
  • Bahan pereduksi pada reaksi-reaksi ini adalah bentuk rantai terbuka aldosa dan ketosa. 
  • Ujung peruduksi dari suatu gula adalah ujung yang mengandung ggus aldehida atau keto bebas.
Benedict Reagen 

  • Benedict Reagen  digunakan untuk mentes atau memeriksa kehadiran gula monosakarida dalam suatu cairan. 
  • Monosakarida bersifat redutor, dengan diteteskannya Reagen akan menimbulkan endapan merah bata. 
  • Selain menguji kualitas, secara kasar juga berlaku secara kuantitatif, karena semakin banyak gula dalam larutan maka semakin gelap warna endapan.
 Benedict Reagen


langkah Kerja
Uji Reduksi
  1. Disiapakan tiga tabung A, B, C.
  2. Kedalam tabung A dimasukan 2 ml CuSO4 1% dan 2 ml NaOH 10%
  3. Ke dalam tabung B dimasukan 2 ml CuSO4 1% dan 2 ml NaOH 10% dan tambahkan 5 tetes glukosa 1%
  4. Ke dalam tabung C dimasukamn larutan seperti pada tabung A dan tambahkan larutan Na-Sitrat 30% sampai endapan larut.
  5. Panaskan ke-3 tabung tersebut kedalam air mendidih dan perhatikan perubahan yang terjadi.
  6. Ke dalam tabung C ditambahakan beberapa tetes larutan glukosa 1% dan selanjutnya dipanaskan kembali, dicacat hasilnya.
Uji Benedict
  1. Disiapkan empat tabung reksi yang yang nantinya akan isi dengan glukosa 1%, sukrosa 1%, laktosa 1%, larutan pati 1%.\
  2. Kedalam seluruh tabung reaksi di masukan 5 ml reagen benedict dan 8 tetes larutan percobaan, lalu campur merata.
  3. Perhatikan warna yang terjadi serta ada tidaknya pembentukan endapan.
Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan percobaan adalah sebagai berikut;
Uji Reduksi
Sebelum dipanaskan

Tabung reaksi
Hasil reaksi yang terjadi
Tabung A
Berwarna biru, terdapat endapan
Tabung B
Berwarna biru, terdapat endapan
Tabung C sebelum ditambah glukosa
Berwarna biru
Tabung C setalah ditambah glukosa dan dipanaskan
-

Hasil Percobaan 

  • Pada uji Glukosa, yaitu larutan gula yang ditambahkan dengan luff dan melalui proses pembakaran terjadi warna oranye yang menunjukkan bahwa gula mengandung glukosa. Namun jika perbandingn antara air dan gula tidak sesuai akan terjadi warna hijau yang artinya kadar glukosanya rendah.

larutan gula saat dibakar





larutan gula setelah dibakar

BERIKUT JUGA DISAJIKAN UJI SENYAWA ORGANIK LAINNYA

UJi Terhadap Karbohidrat

Uji Molisch
R: 10g α-naftol/100ml etilalkohol 95%
U: 2ml S + 2ml R+ 5ml H2SO4→Hijau (+)

Uji Antron
R: 0,2g antron/80ml asam sulfat P
U: 0,2ml S/krtas saring + 2ml R + asam astet glasial/asam sulfat P (susu)→Hijau (+)

Uji Benedict
R: 175g Kristal natrium sitrat&100g natrium karbonat anhidros/800ml air→+ 17,3g koper sulfat/100ml→e 1L
U: 5ml R + 8 tetes S → 3 menit Hijau (+)

Uji Barfoed
R: 13,3g Kristal koper asetat/200ml air→saring+ 1,9ml as.glasial
U: 3ml R+ 1ml S→ 1 menit Hijau (+)

Uji Fearon
R: -
U: 4ml S + 3-4 tetes metilamin HCl→didih 30 men + 4 tetes NaOH 20%→H (disk→Merah)

Uji Selliwanoff
R: 0,05g resorsini/100ml HCl
U: 3ml R + 3 tetes S → didih Hijau (+)

Uji Foulger
R: 2g stanno Cl dlm 49g urea/80ml H2SO4 40% (v/v)
U: 2ml S + 1ml HCl P + 1 R → panas Hijau (+)

Uji Fenilhidrazin
R: 2g Fenilhidrazin HCl/30ml air + 3g natrium asetat anhidrous
U: 2ml S + 5ml R → panas kristal dlm larutan→ mikroskopik Hijau (+)

Uji Iodin
R: 10g kalium iodida/1L air + 2,5g iodin
U: 3ml amilum 2 tetes air/HCl/NaOH + 1 tetes R→ panas-dingin Hijau (+)

Ket: S = Sampel
R = Reagen
U = Uji

UJI PROTEIN

TEORI SINGKAT PROTEIN
  • Protein merupakan biopolymer polipeptida yang tersusun dari sejumlah asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida. 
  • Protein merupakan biopolymer yang multifungsi, yaitu sebagai struktural pada sel maupun jaringan dan organ, sebagai enzim suatu biokatalis, sebagai pengemban atau pembawa senyawa atau zat ketika melalui biomembran sel, dan sebagai zat pengatur.
  • Protein juga merupakan makromolekul yang paling berlimpah di dalam sel dan menyusun lebih dari setengah berat kering pada hampir semua organisme. Protein merupakan instrumen yang mengekspresikan informasi genetik.

Protein mempunyai fungsi unik bagi tubuh, antara lain

  1. Menyediakan bahan-bahan yang penting peranannya untuk pertumbuhan dan memelihara jaringan tubuh,
  2. Mengatur kelangsungan proses di dalam tubuh,
  3. Memberi tenaga jika keperluannya tidak dapat dipenuhi oleh karbohidrat dan lemak.

  • Ada berbagai cara dalam pengujian terhadap protein yaitu dengan reaksi uji asam amino dan reaksi uji protein. 
  • Reaksi uji asam amino sendiri terdiri dari 6 macam uji yaitu: uji millon, uji hopkins cole, uji belerang, uji xantroproteat, dan uji biuret. 
  • Sedangkan untuk uji protein, berdasarkan pada pengendapan oleh garam, pengendapan oleh logam dan alkohol. Serta uji koagulasi dan denaturasi protein.
  • Pada uji asam amino terdapat uji bersifat umum dan uji bersifat uji berdasakan jenis asam aminonya. 
  • Seperti halnya uji millon bersifat spesifik terhadap tirosin, uji Hopkins cole terhadap triptofan, uji belerang terhadap sistein, uji biuret bereaksi positif terhadap pembentukan senyawa kompleks Cu gugus –CO dan –NH dari rantai peptida dalam suasana basa. 
  • Serta uji xantroproteat bereaksi positif untuk asam amino yang mengandung inti benzena.
  • Asam amino merupakan unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap ujungnya. 
  • Protein tersusun dari atom C, H, O, dan N, serta kadang-kadang P dan S. 
  • Dari keseluruhan asam amino yang terdapat di alam hanya 20 asam amino yang yang biasa dijumpai pada protein.
Struktur molekul asam amino
  • Dari struktur umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya, yaitu gugus amino dan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar. 
  • Gugus amino dan gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat spesifiknya. 
  • Karena asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya.
Reaksi uji asam amino meliputi :

  1. Uji Millon
  2. Hopkins-Cole.
  3. Uji Ninhidrin
  4. Uji belerang.
  5. Uji Xanthoproteat
  6. Uji Biuret
1. UJI MILLON

  • Sebanyak 5 tetes pereaksi Millon ditambahkan ke dalam 3 mL larutan protein, dipanaskan. 
  • Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.

2.UJI HOPKINS-COLE
  • Sebanyak 2 mL larutan protein dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole dalam tabung reaksi. 
  • Ditambahkan 3 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung sehingga membentuk lapisan dari cairan. 
  • Didiamkan, setelah beberapa detik akan terbentuk cincin violet (ungu) pada pertemuan kedua lapisan cairan, apabila positif mengandung triptofan. 
  • Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, dan pepton 2%.

3.UJI NINHIDRIN
  • Sebanyak 0.5 mL larutan ninhidrin 0.1% ditambahkan ke dalam 3 mL larutan protein.
  •  Dipanaskan selama 10 menit, diamati perubahan warna yang terjadi. 
  • Uji dilakukan terhadap larutan albumin 0.02%, gelatin 0.02%, kasein 0.02%, dan pepton 0.02%.

4. UJI BELERANG
  • Sebanyak 2 mL larutan protein ditambah 5 mL NaOH 10%, dipanaskan selama 5 menit. 
  • Kemudian ditambah 2 tetes larutan Pb-asetat 5%, pemanasan dilanjutkan, diamati warna yang terjadi.
  • Uji dilakukan terhadap larutan albumin 0.02%, gelatin 0.02%, kasein 0.02%, dan pepton 0.02%.

5. UJI XANTHOPROTEAT
  • Sebanyak 2 mL larutan protein ditambahkan 1 mL HNO3 pekat, dicampur, kemudian dipanaskan, diamati timbulnya warna kuning tua. 
  • Didinginkan, ditambahkan tetes demi tetes larutan NaOH pekat sampai larutan menjadi basa. 
  • Diamati perubahan yang terjadi. 
  • Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.

6. UJI BIURET
  • Sebanyak 3 mL larutan protein ditambah 1 mL NaOH 10% dan dikocok. 
  • Ditambahkan 1-3 tetes larutan CuSO4 0.1%. 
  • Diamati timbulnya warna.
  • Salah satu cara untuk mengantisipasi masalah kekurangan kalori protein yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi pangan yang beraneka ragam. 
  • Dengan konsumsi bahan pangan yang beraneka ragam, maka kekurangan zat gizi dari satu jenis zat pangan akan dilengkapi oleh gizi dari pangan lainnya. 
  • Kualitas protein dalam suatu bahan makanan dapat diketahui dengan melakukan pengujian. 
  • Salah satu metode untuk mengevaluasi nilai gizi protein adalah secara in vivo.
  • Pada pengendapan protein oleh logam, oleh garam, oleh alkohol, uji koagulasi dan denaturasi protein. 
  • Kedalam 3 ml albumin ditambahkan 5 tetes larutan HgCl2 2%, percobaan diulangi dengan larutan Pb-asetat 5%, dan AgNO3 5%. 
  • Sepuluh ml larutan protein dijenuhkan dengan amonium sulfat yang ditambahkan sedikit demi sedikit, kemudian diaduk hingga mencapai titik jenuh dan disaring. 
  • Lalu diuji kelarutannnya dengan ditambahkan air, untuk endapan diuji dengan pereaksi Millon dan filtrat dengan pereaksi biuret. 
  • Ditambahkan 2 tetes asam asetat 1 M ke dalam tabung yang berisi 5 ml larutan protein, kemudian tabung tersebut diletakkan dalam air mendidih selama 5 menit. 
  • Lalu diambil endapan dengan batang pengaduk, untuk endapan diuji kelarutannya dengan air , sementara endapan dengan pereaksi Millon. 
  • Disiapkan 3 tabung reaksi, tabung pertama diisi campuran sebagai berikut ; 5 ml larutan albumin, 1 ml HCl 0,1 M dan 6 ml etanol 95%. Ke dalam tabung kedua dimasukkan5 ml larutan albumin, 1 ml NaOH 0,1 M dan 6 ml etanol 95%. Ke dalam tabung ketiga 5 ml larutan albumin, 1 ml buffer asetat ph 4,7 dan 6 ml etanol 95%.


Secara sistematis berikut langkahnya
Uji Milon
  • R : Merkuri dan ion merkuro yang dalam as nitrat as nitrit
  • Warna yg terbentuk : Garam merkuri dari tirosina yang termitrasi
  • R: 10 g merkuri+ 20 ml as nitrat p,bila telah melarut dan uap coklat hilang, kemudian ditambahkan 60 ml air kemudian disimpan
  • Larutan protein : albumin 1:5
  • U: 5 tetes reagen pada 3 ml larutan protein, dipanaskan campuran, jika reagen tll byk maka warna hilang pada pemanasan


 





 Uji Hopkins Cole
  • R: R Hopkins Cole mengandung as glioksalat, larutan protein, H2SO4 p
  • U: Dalam 2 ml larutan protein ditambahkan dengan 2 ml reagen Hopkins Cole, kemudian perlahan ditambahkan 5ml H2SO4 melalui dinding tabung, amati warna yang terbentuk pada batas kedua cincin;jika perlu diputar perlahan sampai terbentuk cincin berwarna. (+) cincin berwarna
Uji Ninhidrin (Triketohidrindene hidrat)
  • R: Larutan ninhidrin 0,1%, larutan protein
  • U: Tambahkan 0,5 ml larutan ninhidrin 0,1% pada 3 ml larutan protein, kemudian dipanaskan hingga mendidih,ulangi dengan menggunakan glisina. (+) ungu

R: Reagen
U: Uji

ANALISIS
  • Kali ini saya pingin sharing mengenai praktikum biologi untuk menguji kandungan bahan makanan
  • Salam praktek bahan dan prosedurnya sangat variatif. Yang penting perhatikan hasilnya saja.

Tujuan

Menguji kandungan karbohidrat, gula, protein, dan lemak, pada jenis makanan tertentu.

Alat dan Bahan

  1. Tabung reaksi
  2. Pipet
  3. Pemanas air/water batch
  4. Bunsen
  5. Mortar dan alat tumbuk
  6. Larutan Benedict / Fehling A / Fehling B
  7. Larutan Iodine / kalium iodide
  8. Larutan Biuret / Millon / Mollisch
  9. Larutan NaOH 30%
  10. Larutan HNO3 pekat
  11. Sudan III / kertas buram
  12. Bahan makanan: tahu, tempe, pisang, roti, mentega, dan mie yang telah ditumbuk halus, lalu dimasukkan ke dalam air

Langkah Kerja

1. Uji Benedict / Fehling A / Fehling B (uji gula / monosakarida)
Masukkan 5 ml reagen Benedict ke dalam tabung reaksi, kemudian tambahkan 0,5 ml larutan hasil penggerusan bahan makanan! Panaskan tabung dalam water bath (70 °C) selama 5 menit lalu dinginkan! Amatilah perubahan yang terjadi dalam tabung! Bila dalam makanan terdapat karbohidrat/gula, maka terbentuk endapan merah bata.
2. Uji Iodin (uji karbohidrat / amilum)
Masukkan 5 ml larutan hasil penggerusan bahan makanan karbohidrat/amilum ke dalam tabung reaksi! Tambahkan dua tetes larutan Iod dan amati perubahan yang terjadi dalam tabung! Bila larutan warna berubah menjadi hitam atau kebiruan, maka bahan makanan yang diuji mengandung karbohidrat.
3. Uji Biuret (protein)
Tambahkan 2 ml larutan biuret (larutan KOH 5 % + larutan CUSO4 5 %) kedalam larutan putih telur. Terjadi perubahan warna larutan putih telur menjadi ungu. Perubahan warna ungu pada larutan putih telur menunjukkan larutan tersebut mengandung protein
Jika menggunakan Millon: tambahkan 2 ml larutan millon kedalan 2 ml larutan putih telur. Panaskan larutan dalam air mendidih. Terjadi perubahan warna larutan putih telur menjadi merah. Perubahan warna larutan menjadi merah menunjukkan larutan putih telur mengandung protein
4. Tes kandungan lemak
Teteskan 3 tetes minyak di atas kertas saring/kertas buram. Kertas saring menjadi transparan. Itu bukti kandungan lemak/minyak.
Jika menggunakan Sudan III: Tambahkan 2 ml larutan sudan III kedalam larutan minyak. Terbentuk lapisan berwarna merah pada permukaan larutan. Lapisan berwarna merah pada permukaan larutan menunjukkan kandungan lemak dalam larutan
Selamat mencoba!

CATATAN TAMBAHAN GLUCOSA

  • Glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. 
  • Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. 
  • Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri pangan.
  • Glukosa (C6H12O6, berat molekul 180.18) adalah heksosa—monosakarida yang mengandung enam atom karbon. 
  • Glukosa merupakan aldehida (mengandung gugus -CHO). 
  • Lima karbon dan satu oksigennya membentuk cincin yang disebut "cincin piranosa", bentuk paling stabil untuk aldosa berkabon enam. 
  • Dalam cincin ini, tiap karbon terikat pada gugus samping hidroksil dan hidrogen kecuali atom kelimanya, yang terikat pada atom karbon keenam di luar cincin, membentuk suatu gugus CH2OH. 
  • Struktur cincin ini berada dalam kesetimbangan dengan bentuk yang lebih reaktif, yang proporsinya 0.0026% pada pH 7.
  • Glukosa merupakan sumber tenaga yang terdapat di mana-mana dalam biologi. Kita dapat menduga alasan mengapa glukosa, dan bukan monosakarida lain seperti fruktosa, begitu banyak digunakan. 
  • Glukosa dapat dibentuk dari formaldehida pada keadaan abiotik, sehingga akan mudah tersedia bagi sistem biokimia primitif. 
  • Hal yang lebih penting bagi organisme tingkat atas adalah kecenderungan glukosa, dibandingkan dengan gula heksosa lainnya, yang tidak mudah bereaksi secara nonspesifik dengan gugus amino suatu protein. 
  • Reaksi ini (glikosilasi) mereduksi atau bahkan merusak fungsi berbagai enzim. 
  • Rendahnya laju glikosilasi ini dikarenakan glukosa yang kebanyakan berada dalam isomer siklik yang kurang reaktif



LINNAEUS ROH KLASIFIKASI DUNIA

Begitu cepatnya alam semesta ini terjadi perubahan, karena peristiwa peristiwa alam yang membuat makhluk hidup harus terus beradaptasi sehingga menciptakan variasi mahkluk hidup yang jumlahnya banyak dan sangat beraneka ragam. Karena jumlahnya banyak dan beraneka ragam, maka kita akan mengalami kesulitan dalam mengenali dan mempelajari makhluk hidup. Untuk mempermudah dalam mengenali dan mempelajari makhluk hidup maka diperlukan cara. Cara untuk mempermudah kita dalam mengenali dan mempelajari makhluk hidup disebut Sistem Klasifikasi (penggolongan / pengelompokan).
Klasifikasi ini mendasarkan kesamaan bentuk dan fungsi pada tubuh . Tujuan klasifikasi itu sendiri adalah untuk memudahkan mengenali jenis-jenis mahkluk hidup serta memudahkan komunikasi di dalam biologi. Klasifikasi bersifat dinamis. Hal itu disebabkan beberapa kemungkinan seperti adanya perkembangan pengetahuan tentang mahkluk hidup yang menjadi detail /terperinci , penggunaan karakter yang berbeda dalam klasifikasi didasarkan atas persamaan dan perbedaan karakter tertentu pada mahkluk hidupnya.

Secara sistematis pengelompokkan dengan berbagai sistem kingdom berapapun pada mahkluk hidup dikelompokkan , History Perkembangan pemgelompokkannya sebaiknya tidak melupakan Carollus Linnaeus dan Aristoteles.
Pada zamannya Aristoteles ( 384 - 377 SM) sudah begitu majunya ia mengelompokkan untuk mempermudah mengenal mahkluk hidup . Sistem klasifikasi ini dilakukan dengan melihat kesamaan bentuk luar dari tubuh makhluk hidup (morfologi). Makhluk hidup pada masa ini dibedakan menjadi dua kelompok seperti konsep Aristoteles yang mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi 2 yaitu tumbuhan dan hewan. Hewan-hewan yang memiliki bentuk tubuh yang sama dikelompokkan menjadi satu kelompok tersendiri. Selain itu hewan juga dikelompokkan berdasarkan kegunaannya masing-masing. Pengelompokan hewan didasarkan pada ciri-ciri lalu ditentukan macamnya dan diberikan nama sesuai dengan isyarat yang dimiliki. Proses-proses ini dilakukan tanpa kesadaran dan berlangsung dalam waktu yang sangat cepat. masa Aristoteles memang belum ada publikasi tetapi pikirannya yang maju itulah patut untuk diperhitungkan .
Carollus Linnaeus kini karena keahliannya ia dijuluki bapak Taxonomi dunia kerena ketekunan dan kecerdasan dan sistematis dia dalam bekerja untuk mengelompokkan dan memudahkan orang mengenal mahkluk hidup , tidak mbulet mbulet kesana kemari sistematis kerjanya ditunjukkan dalam memberikan nama ilmiah setiap mahkluk hidup dalam Binomial nomenclature dan cara mengelompokkan secara ilmiah ke dalam suatu hirarki. Sistem ini dirintis pada abad ke-18 oleh Carolus Linnaeus, seorang ilmuwan Swedia, terutama melalui dua bukunya Systema Naturae dan Species Plantarum. Menurut sistem ini, klasifikasi diawali dengan tiga kerajaan besar, yang selanjutnya dibagi lagi menjadi kelas dan ordo. Ordo kemudian dibagi lagi menjadi genus dan selanjutnya spesies.
Linnaeus ialah ahli botani yang paling dihormati pada masanya, dan ia juga terkenal dengan kemampuan bahasanya. Linnaeus adalahi ahli Zoologi, botani dan juga seorang dokter.
Makalahnya mengenai taksonomi berjudul Systema Naturae. Di dalamnya, penggunaan deskripsi resmi - physalis amno ramosissime ramis angulosis glabris foliis dentoserratis - diganti olehnya menjadi nama genus-species yang ringkas dan akrab pada zaman sekarang - Physalis angulata - dan penggolongan taksa lebih tinggi dibuat secara berurutan. Linnaeus adalah pelopor sisstem binomial nomenklature atau sistem tata nama ganda.
Linnaeus meneruskan kerja dalam sistem klasifikasi serta memperluas pula pada Kerajaan (Regnum) Hewan dan Kerajaan Mineral.
Sumbangan utama Linnaeus bagi ilmu taksonomi ialah pembuatan konvensi penamaan organisme hidup yang diterima secara universal dalam dunia ilmiah—karya Linnaeus tersebut menjadi titik awal tatanama biologi. Selain itu, Linnaeus mengembangkan, selama pengembangan besar pengetahuan sejarah alam pada abad ke-18, hal yang sekarang disebut sebagai taksonomi Linnaeus, yaitu sistem klasifikasi ilmiah yang kini digunakan secara luas dalam biologi.
Sistem Linnaeus mengklasifikasikan alam dalam hirarki atau tingkatan-tingkatan, dimulai dengan dua "kerajaan" atau kingdom yaitu Animalia dan Plantae. Kerajaan dibagi ke dalam Kelas dan masing-masing Kelas terbagi dalam Ordo, yang dibagi dalam Genera (bentuk tunggal: genus), yang dibagi dalam Spesies. Di bawah tingkatan spesies, Linnaeus kadang menyebutkan takson yang tidak diberinya nama (untuk tumbuhan, hal ini sekarang dinamai "varietas").
Linnaeus menamai taksa dengan sesuatu yang mengena pada ciri khusus taksa tersebut. Sebagai contoh, manusia adalah Homo sapiens, tetapi ia juga menyatakan bahwa ada species manusia kedua, Homo troglotydes (bermakna "orang goa", yang ia maksudkan untuk simpanse dan sekarang ditempatkan dalam genus berbeda (bukan Homo) melainkan Pan troglotydes). Kelompok mamalia dinamai berdasarkan kelenjar susu (mammae) karena salah satu definisi karakteristik mamalia adalah bahwa mereka merawat bayinya. (Dari beberapa perbedaan antara mamalia dan hewan lain, Linnaeus lebih memilih hal ini karena pandangannya pada pentingnya keberadaan induk betina.)
Hanya sistem pengelompokan hewan oleh Linnaeus yang masih tetap digunakan hingga kini, dan pengelompokan itu sendiri sudah banyak berubah sejak dicetuskan oleh Linnaeus sebagaimana prinsip-prinsip yang melandasi pengelompokan itu juga banyak berubah. Namun demikian, Linnaeus tetap dianggap berjasa mengembangkan gagasan struktur hirarki klasifikasi yang didasari oleh sifat-sifat teramati. Rincian dasar tentang hal yang dapat dianggap sah secara ilmiah untuk disebut 'sifat teramati' itu sendiri telah berubah seiring bertambahnya pengetahuan (contohnya, DNA yang pada masa hidup Linnaeus tidak dikenal telah terbukti bermanfaat dalam mengklasifikasikan dan menentukan hubungan organisme hidup satu dengan lainnya), namun prinsip-prinsip dasarnya tetap masuk akal.

Support web ini

BEST ARTIKEL