Sunday, March 24, 2019

MOHON KEKUATAN

Hari ini ketika bangun kok ada bagus perlahan dari suara HP anak sholawatan ....Kok bsgus adem siapa yang nyanyi ..Presiden .... Ya udah saya ambil ya kok rasanya adem menyejukkan..... Ad Maiorem dei Gloriam
 


Kita diingatkan untuk menjalani hidup . kita kudu memuliaan Allah yang lebih besar dan kita ini ada tentunya untuk menghormati, memuji, dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah menciptakan dunia untuk kebaikan, persatuan, dan cinta. Ketika kita mengakui bahwa segala sesuatu adalah untuk kemuliaan Allah yang lebih besar, pencarian kekuasaan, kekayaan, dan pengetahuan yang sering kita saksikan hari ini diubah menjadi keinginan untuk memuliakan Allah dengan menempatkan diri kita dan sumber daya kita untuk melayani orang lain dan khususnya mereka yang paling membutuhkan bantuan.

We are reminded to live our lives for the greater glory of God and called to honor, praise and thank the God who created the world for goodness, unity and love.
When we acknowledge that everything is for God’s greater glory, the quest for power, wealth and knowledge we often witness today is transformed into the desire to give glory to God by placing ourselves and our resources at the service of others and especially those most in need of help.

Friday, March 22, 2019

PEREMPUAN TANPA LAKI IBARAT IKAN TANPA SEPEDA


Ada Tulisan bagus yang perlu saya share karena berhubungan dengan loncatan pengetahuan ... meski saya terlahir zaman Old namun saya terus berusaha bagaimana agar bisa available di jaman Milenial ini

ORANG INDONESIA KURANG TERLATIH MENGGUNAKAN OTAKNYA #1
Saya pernah memposting foto ini di page saya. Kalimatnya, "Perempuan tanpa laki-laki ibarat ikan tanpa sepeda." Di bawah kalimat tersebut tertulis nama orang yang membuat kutipan tersebut; “Gloria Steinem, Penulis Feminism”. Postingan tersebut mendapat 616 likes, 312 komen dan lebih dari 1600 shares.

Yang bikin saya merasa aneh, ternyata banyak sekali orang yang gak ngerti kalimat tersebut. Di ruang komen mereka bertanya, “Apa sih maksudnya kalimat ini? Ikan dan sepeda kan gak ada hubungannya?” Tentu saja ada juga yang ngerti tapi yang mempertanyakan kalimat itu jauh lebih banyak.

Lucunya, ketika postingan itu saya upload lagi di account personal, dan saya kasih kata pengantar, “Hayo, ada yang ngerti gak kalimat ini?”

Believe it or not, semuanya ngerti tanpa kecuali. Aneh, kan? Kenapa bisa begitu? Ternyata kalimat pengantar saya membuat orang tertantang dan langsung berpikir untuk menemukan maknanya. Kesimpulannya adalah mereka harus disuruh dan diberi komando untuk membuat otaknya bekerja.

Saya yakin orang-orang yang gak ngerti di page bukannya bodoh. Tapi mereka tidak terlatih untuk menggunakan otaknya. Mereka harus disuruh atau ditantang supaya mau menganalisa kalimat tersebut. Begitu mereka mau berpikir lalu menemukan identitas penulisnya, barulah dengan mudah mereka menemukan maknanya. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Tanpa bermaksud menjelekkan pihak tertentu, saya merasa memang ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Metode pengajaran di negeri ini kurang memancing murid untuk berpikir. Akibatnya mereka tidak terbiasa untuk menganalisa sesuatu. Di sekolah kita cenderung disuruh menghapal pelajaran dan menelannya mentah-mentah. Kemudian pas ujian kita diberi pertanyaan dengan jawaban yang kita hapalkan dari buku.

Untungnya, ada cukup banyak teman-teman saya yang kritis. Mereka sangat pintar dan suka menganalisis dan mencoba mendebat guru yang sedang mengajar.

Misalnya sewaktu pelajaran sejarah di sekolah menengah. Ada sebagian teman saya yang mempertanyakan sesuatu yang menurut mereka tidak logis. Berikut saya tuliskan beberapa pertanyaan mereka.

“Pak, saya kok belum menemukan alasan kenapa Ibu Kartini bisa menjadi pahlawan. Yang dilakukannya buat saya cuma curhat dengan berkirim surat pada temannya di Belanda. Apakah ada lagi perbuatannya yang lain sehingga dia pantas menyandang gelar pahlawan?” tanya anak itu polos.

“Bu, kalo Pangeran Diponegoro berperang karena tanah miliknya mau diambil oleh Belanda berarti dia cuma membela hak kepemilikannya, dong? Dia berperang bukan untuk negeri ini. Kok bisa jadi pahlawan, sih?” tanya yang lain lagi.

“Pak, Jenderal Soedirman kepahlawanannya di mana, ya? Kalo saya baca bukunya, keliatannya dia cuma seorang pemimpin yang sakit TBC, ditandu ke mana-mana oleh anak buahnya karena dikejar-kejar tentara Belanda. Gak ada satu pun tertulis dia pernah melakukan perbuatan heroik atau minimal pernah menembak tentara Belanda sampai mati,” tanya yang lain lagi

Ada lagi yang bertanya, “Bu. saya rasa Indonesia dijajah Belanda bukan 350 tahun. Hitungannya dimulai dari Cornelis de Houtman saat mendarat di Pelabuhan Banten, tahun 1596. Waktu itu dia kan baru mendarat, masak udah dihitung kita dijajah sih? Lagipula Cornelis De Houtman itu kan datangnya tidak mewakili pemerintahan resmi Negara Belanda.”

Dan tau gak apa yang terjadi? Semua guru tanpa terkecuali marah besar mendengar pertanyaan itu. Bahkan yang menanyakan soal Jenderal Soedirman dapat tamparan di pipi lalu kena skors seminggu gak boleh masuk sekolah. Meraka dianggap kurang ajar karena mempertanyakan kepahlawanan seseorang yang sudah ditetapkan secara resmi oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional.

Melihat sikap guru-guru seperti itu, akhirnya murid-murid menyerah. Mereka kembali sibuk menghapal dan menelan mentah-mentah buku wajib yang diberikan pihak sekolah. Sayang banget, ya? Padahal sikap kritis itu kan bagus. Seharusnya guru-guru tersebut bersyukur mempunyai murid yang analitik. Untuk mengantisipasi sikap kritis tersebut, seharusnya para guru bisa bikin diskusi lalu mencari literatur yang lebih lengkap untuk memuaskan rasa ingin tau para murid. Sayangnya hal itu tidak terjadi.

Saya pribadi pernah mendapat perlakuan sama. Waktu jaman kuliah, ada seorang dosen yang selalu mendiktekan materi pelajaran dan kami harus mencatatnya kata perkata. Karena mulai terganggu, minggu ketiga saya coba kasih usul.

“Ibu, gimana kalo buku ibu saya fotokopi aja. Setalah itu, saya bagikan ke semua mahasiswa. Kita bacanya di rumah, jadi setiap pelajaran Ibu, kita tinggal diskusi,” kata saya.

Di luar dugaan, Sang Ibu mengambil penghapus dan melemparkannya ke arah saya. Untung gak kena. Dengan suara sangat murka dia menjerit, “Keluar kamu!! Gak usah ajari cara saya mengajar. KELUAR!!!”

Dan saya pun keluar dari kelas dengan penuh kebingungan, ‘Kok dia marah, sih? Apa yang salah dengan usul saya?’

Tapi begitulah nasib generasi kami. Mahasiswa gak punya bargaining power. Gak ada pilihan lain, saya pun menerima keadaan. Mencatat semua pelajaran dan menelannya mentah-mentah. Sikap kritis dan analitik saat itu adalah barang mewah. Semoga generasi berikutnya sudah membaik. Insya Allah.

Kembali pada judul di atas. Mungkin itu sebabnya banyak orang tidak mengerti kalimat di atas. Otak mereka cenderung statis. Ketika saya tantang, ‘Apa artinya kalimat ini?’ Taraaaa….barulah otak mereka bekerja. Dan tanpa kesulitan semua orang menemukan jawabannya. Gila, kan?

Sekali lagi saya berkesimpulan bahwa mereka tidak terbiasa menggunakan otaknya. Mereka cenderung membaca dan menelan mentah-mentah apa yang tertulis tanpa berusaha mencari makna yang tersembunyi di balik setiap kata.

Jadi apa artinya ‘Perempuan Tanpa laki-laki Ibarat Ikan Tanpa Sepeda.’ Ada yang gak tau? Hehehehe

Support web ini

BEST ARTIKEL