Showing posts with label NEMATHELMINTHES - WUCHERIA BRANCROFTII. Show all posts
Showing posts with label NEMATHELMINTHES - WUCHERIA BRANCROFTII. Show all posts

Thursday, May 5, 2011

NEMATHELMINTHES - WUCHERIA BRANCROFTII




  • Cacing filaria penyebab penyakit kaki gajah (filariasis)
  • Jenis cacing ini masuk ketubuh diinjeksikan oleh nyamuk yang membawa cacing mikrofilaria
  • Ukurannya sangat kecil (mikrofilaria) mirip benang.Larva mikrofilaria pada nyamuk diijeksikan ketubuh letika ia menghisap darah sekali keluar jumlahnya bisa puluhan ribu larva bersarung berukuran 200-600 mikron x 8 mikron.
  • Begitu cacing filaria dalam bentuk larva ini masuk dan lemudian bersarang di tubuh manusia, berbagai perubahan mengerikan bakal terjadi.
  • Kegiatan cacing filaria atau sering disebut Wucheria ini dalam tubuh membuat kaki, tangan, payudara, bahkan buah zakar penderitanya berubah menjadi berukuran “raksasa”.
  • Inilah yang kemudian penderitanya disebut berpenyakit kaki gajah (Elephantiasis)
  • Walau sangat jarang menyebabkan kematian, penyakit itu membuat penderita menjadi cacat dan tak produktif.
  • Cacing filaria penyebab penyakit kaki gajah itu berasal dari genus Wuchereria dan genus Brugia.
  • Di Indonesia cacing yang dikenal sebagai penyebab penyakit tersebut adalah wuchereria bancrofti, brugia malayi, dan brugia timori. OK
  • Cacing dewasa (makrofilaria), berbentuk silindris, halus seperti benang putih kekuningan serta berukuran panjang 55 – 100 mm dan tebal 0,16 mm.
  • Sedangkan larva cacing filaria (mikrofilaria) berbentuk seperti benang berwarna putih susu.
  • Makrofilaria yang betina memiliki panjang kurang lebih 65 – 100 mm, ekornya berujung tumpul, untuk makrofilarial yang jantan memiliki panjang kurang lebih 40 mm, ekor melingkar.
  • Sedangkan mikrofilaria berukuran panjang kurang lebih 250 mikron, bersarung pucat.
KENAPA KOK KETIKA CACING FILARIA INI MASUK KETUBUH TERJADI PERUBAHAN SEORANG PENDERITA TERJADI PEMBENGKAKAN ?
  • Nyamuk pembawa mikrofilaria itu bergentayangan menggigit manusia dan ”memindahkan” larva infektif tersebut ke orang yang sehat


  • Bersama aliran darah, larva keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke pembuluh limf (lihat gambar)

  • Larva Mikrofilaria tumbuh membentuk Makrofilaria ada yang jenisnya jantan dan ada yang betina ia ada di saluran limfe dan kelenjar limfe.
  • Setelah itu cacing menyumbat pembuluh limfe dan menghalangi cairan limfe sehingga terjadi pembengkakan
  • Selain di kaki, pembengkakan bisa terjadi di tangan, payudara, atau buah zakar.
  • Di tubuh manusia cacing itu menumpang makan dan hidup sehingga bersifat parasit
  • Ketika menyumbat pembuluh limfe di selangkangan, misalnya, cairan limfe dari bawah tubuh tidak bisa mengalir sehingga kaki membesar. Dapat terjadi penyumbatan di ketiak, mengakibatkan pembesaran tangan.
  • pembengkakan itulah kemudian dikenal dengan penyakit Elephantiasis atau sering disebut Filariasis
  • Cacing filatia ini pada malam hari terdapat di dalam pembuluh darah tepi, dan pada siang hari bersembunyi di organ dalam tubuh.terdapat di kapiler alat-alat dalam, misalnya: paru-paru, jantung, dan hati.
HOSPES FILARIA
  • Lebih dari 20 species nyamuk menjadi vektor (penyebar penyakit) filiriasis.
  • Nyamuk Culex quinquefasciatus sebagai vektor (penyebar penyakit) untuk wuchereria bancrofti di daerah perkotaan.
  • Di pedesaan vektor umumnya Anopheles, Culex, Aedes, dan Mansonia.
  • Spesies nyamuk vektor bisa berbeda dari daerah satu dengan daerah lain.
  • Cacing yang diisap nyamuk tidak begitu saja dipindahkan, tetapi sebelumnya tumbuh di dalam tubuh nyamuk.
  • Makhluk mini itu berkembang dalam otot nyamuk.
  • Sekitar 3 minggu, pada stadium 3, larva mulai bergerak aktif dan berpindah ke alat tusuk nyamuk.
  • .Pemeriksaan darah ada-tidaknya cacing biasa dilakukan malam hari.
  • Selain manusia, untuk brugia malayi, sumber penularan penyakit juga bisa binatang liar, seperti kera dan kucing (hospes reservoir).
DIAGNNOSIS

  • Diagnosis dini orang yang mengandung mikrofilaria baru dapat ditegakkan jika ditemukan gejala dan tanda akut filariasis.
  • Gejalanya, antara lain, demam berulang dan pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Dapat terjadi ketiak tampak kemerahan, panas, dan sakit, selain juga pembesaran organ tubuh.
  • Gejala klinik kronis berupa pembesaran menetap pada tungkai, lengan, payudara, atau buah zakar.
  • Namun, umumnya, diagnosis baru ditegakkan setelah penyakit berkembang 5-6 bulan setelah dapat ditemukan mikrofilaria dalam darah tepi.
  • Ada kalanya, tidak muncul gejala klinis, baik akut maupun kronis, sehingga orang itu tidak merasakan terserang filariasis.
  • Jika tak diobati, pembesaran terus terjadi sehingga membentuk jaringan ikat dan kulit menebal. Akibatnya, timbul cacat menetap.
  • Diagnosis filariasis sedini mungkin membantu penyembuhan penderita. Deteksi dilakukan dengan mengenali gejala akut dan kronis yang dipastikan lewat pemeriksaan darah pada jari penderita pada malam hari.
  • Penanganan kasus berat filariasis dapat melalui operasi. Limfe yang tersumbat alirannya dialihkan ke pembuluh vena sehingga penderita sembuh.
  • Namun, jika kulit sudah telanjur menebal, cacat akan menetap.
  • Penderita dengan pembesaran menetap justru tubuhnya sudah tidak mengandung cacing lagi sehingga tidak menularkan.
  • Cacing filarial dalam tubuh orang itu sudah mati.
  • Penanggulangan filariasis dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu pengurangan reservoir penular, penanggulangan vektor (nyamuk), dan pengurangan kontak vektor dan manusia.
  • Khusus pengobatan massal, prosedur sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pengobatan massal sejak lama menggunakan diethylcarbamazine citrate (DEC) yang sudah dipraktikkan di 50 negara mencakup 496 juta orang.
  • Indonesia pun berusaha memberantas penyakit tersebut dengan belakangan mengguyur DEC, albendazole, dan paracetamol ke jutaan warga, berharap si cacing mini tak lolos dari kepungan pembasmian.
  • Selama lebih dari 40 tahun untuk pengobatan filariasis, baik secara perorangan maupun untuk pengobatan masal dalam jangka panjang, digunakan DEC (Diethil Carbamazine Citrate). DEC bersifat membunuh mikrofilaria juga makrofilaria atau cacing dewasa. Sehingga sampai saat ini DEC merupakan satu-satunya obat penyakit kaki gajah (filariasis) yang efektif, aman dan relatif murah. Pada pengobatan perorangan bertujuan untuk menghancurkan parasit dan mengeliminasi, guna mengurangi atau mencegah kesakitan. Aturan dosis yang dianjurkan untuk 6 mg/kg berat badan/hari, selama 12 hari diminum sesudah makan, dalam sehari 3 kali.
  • Pada pengobatan masal (program pengendalian filariasis), digunakan pemberian DEC dosis rendah, dengan jangka waktu pemberian yang lebih lama, misalnya:
  • Dalam bentuk garam DEC 0,2% - 0,4% selama 9 - 12 bulan.
  • Untuk orang dewasa digunakan 100mg/minggu selama 40 minggu.
Dengan diserangnya / tersumbatnya kelenjar getah bening ini tentu akan berdampak besar karena peran getah bening sangatlah penting .
Beberapa peran pentinbg getah bening adalah
  1. mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah
  2. mengangkut sel darah putih atau leukosit dari kelenjar limfe ke sirkulasi darah
  3. membawa emulsi lemak dari usus ke sirkulasi darah
  4. menyaring dan menghancurkan mikroorganisme dari tempat masuknya ke dalam jaringan ke bagian lain di dalam tubuh
Note
Peredaran limfe termasuk peredaran terbuka sebab ujung ujung pembuluhnya tidak menyatu atau tidak bersambung .

Peredaran limfe dibedakan
  1. Peredaran limfe kiri , merupakan kumpulan pembuluh pembuluh limfe bagian kiri kepala , dada , dan sisa tubuh seluruhnya
  2. Peredaran limfe kanan , lebih kecil dan berfungsi mengumpulkan limfe dari sebelah kanan kepala , leher , lengan kanan , dan dada sebelah kanan serta menuangkan isinya ke dalam vena yang berada di sebelah bawah kanan leher

Support web ini

BEST ARTIKEL