Friday, March 22, 2019

PEREMPUAN TANPA LAKI IBARAT IKAN TANPA SEPEDA


Ada Tulisan bagus yang perlu saya share karena berhubungan dengan loncatan pengetahuan ... meski saya terlahir zaman Old namun saya terus berusaha bagaimana agar bisa available di jaman Milenial ini

ORANG INDONESIA KURANG TERLATIH MENGGUNAKAN OTAKNYA #1
Saya pernah memposting foto ini di page saya. Kalimatnya, "Perempuan tanpa laki-laki ibarat ikan tanpa sepeda." Di bawah kalimat tersebut tertulis nama orang yang membuat kutipan tersebut; “Gloria Steinem, Penulis Feminism”. Postingan tersebut mendapat 616 likes, 312 komen dan lebih dari 1600 shares.

Yang bikin saya merasa aneh, ternyata banyak sekali orang yang gak ngerti kalimat tersebut. Di ruang komen mereka bertanya, “Apa sih maksudnya kalimat ini? Ikan dan sepeda kan gak ada hubungannya?” Tentu saja ada juga yang ngerti tapi yang mempertanyakan kalimat itu jauh lebih banyak.

Lucunya, ketika postingan itu saya upload lagi di account personal, dan saya kasih kata pengantar, “Hayo, ada yang ngerti gak kalimat ini?”

Believe it or not, semuanya ngerti tanpa kecuali. Aneh, kan? Kenapa bisa begitu? Ternyata kalimat pengantar saya membuat orang tertantang dan langsung berpikir untuk menemukan maknanya. Kesimpulannya adalah mereka harus disuruh dan diberi komando untuk membuat otaknya bekerja.

Saya yakin orang-orang yang gak ngerti di page bukannya bodoh. Tapi mereka tidak terlatih untuk menggunakan otaknya. Mereka harus disuruh atau ditantang supaya mau menganalisa kalimat tersebut. Begitu mereka mau berpikir lalu menemukan identitas penulisnya, barulah dengan mudah mereka menemukan maknanya. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Tanpa bermaksud menjelekkan pihak tertentu, saya merasa memang ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Metode pengajaran di negeri ini kurang memancing murid untuk berpikir. Akibatnya mereka tidak terbiasa untuk menganalisa sesuatu. Di sekolah kita cenderung disuruh menghapal pelajaran dan menelannya mentah-mentah. Kemudian pas ujian kita diberi pertanyaan dengan jawaban yang kita hapalkan dari buku.

Untungnya, ada cukup banyak teman-teman saya yang kritis. Mereka sangat pintar dan suka menganalisis dan mencoba mendebat guru yang sedang mengajar.

Misalnya sewaktu pelajaran sejarah di sekolah menengah. Ada sebagian teman saya yang mempertanyakan sesuatu yang menurut mereka tidak logis. Berikut saya tuliskan beberapa pertanyaan mereka.

“Pak, saya kok belum menemukan alasan kenapa Ibu Kartini bisa menjadi pahlawan. Yang dilakukannya buat saya cuma curhat dengan berkirim surat pada temannya di Belanda. Apakah ada lagi perbuatannya yang lain sehingga dia pantas menyandang gelar pahlawan?” tanya anak itu polos.

“Bu, kalo Pangeran Diponegoro berperang karena tanah miliknya mau diambil oleh Belanda berarti dia cuma membela hak kepemilikannya, dong? Dia berperang bukan untuk negeri ini. Kok bisa jadi pahlawan, sih?” tanya yang lain lagi.

“Pak, Jenderal Soedirman kepahlawanannya di mana, ya? Kalo saya baca bukunya, keliatannya dia cuma seorang pemimpin yang sakit TBC, ditandu ke mana-mana oleh anak buahnya karena dikejar-kejar tentara Belanda. Gak ada satu pun tertulis dia pernah melakukan perbuatan heroik atau minimal pernah menembak tentara Belanda sampai mati,” tanya yang lain lagi

Ada lagi yang bertanya, “Bu. saya rasa Indonesia dijajah Belanda bukan 350 tahun. Hitungannya dimulai dari Cornelis de Houtman saat mendarat di Pelabuhan Banten, tahun 1596. Waktu itu dia kan baru mendarat, masak udah dihitung kita dijajah sih? Lagipula Cornelis De Houtman itu kan datangnya tidak mewakili pemerintahan resmi Negara Belanda.”

Dan tau gak apa yang terjadi? Semua guru tanpa terkecuali marah besar mendengar pertanyaan itu. Bahkan yang menanyakan soal Jenderal Soedirman dapat tamparan di pipi lalu kena skors seminggu gak boleh masuk sekolah. Meraka dianggap kurang ajar karena mempertanyakan kepahlawanan seseorang yang sudah ditetapkan secara resmi oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional.

Melihat sikap guru-guru seperti itu, akhirnya murid-murid menyerah. Mereka kembali sibuk menghapal dan menelan mentah-mentah buku wajib yang diberikan pihak sekolah. Sayang banget, ya? Padahal sikap kritis itu kan bagus. Seharusnya guru-guru tersebut bersyukur mempunyai murid yang analitik. Untuk mengantisipasi sikap kritis tersebut, seharusnya para guru bisa bikin diskusi lalu mencari literatur yang lebih lengkap untuk memuaskan rasa ingin tau para murid. Sayangnya hal itu tidak terjadi.

Saya pribadi pernah mendapat perlakuan sama. Waktu jaman kuliah, ada seorang dosen yang selalu mendiktekan materi pelajaran dan kami harus mencatatnya kata perkata. Karena mulai terganggu, minggu ketiga saya coba kasih usul.

“Ibu, gimana kalo buku ibu saya fotokopi aja. Setalah itu, saya bagikan ke semua mahasiswa. Kita bacanya di rumah, jadi setiap pelajaran Ibu, kita tinggal diskusi,” kata saya.

Di luar dugaan, Sang Ibu mengambil penghapus dan melemparkannya ke arah saya. Untung gak kena. Dengan suara sangat murka dia menjerit, “Keluar kamu!! Gak usah ajari cara saya mengajar. KELUAR!!!”

Dan saya pun keluar dari kelas dengan penuh kebingungan, ‘Kok dia marah, sih? Apa yang salah dengan usul saya?’

Tapi begitulah nasib generasi kami. Mahasiswa gak punya bargaining power. Gak ada pilihan lain, saya pun menerima keadaan. Mencatat semua pelajaran dan menelannya mentah-mentah. Sikap kritis dan analitik saat itu adalah barang mewah. Semoga generasi berikutnya sudah membaik. Insya Allah.

Kembali pada judul di atas. Mungkin itu sebabnya banyak orang tidak mengerti kalimat di atas. Otak mereka cenderung statis. Ketika saya tantang, ‘Apa artinya kalimat ini?’ Taraaaa….barulah otak mereka bekerja. Dan tanpa kesulitan semua orang menemukan jawabannya. Gila, kan?

Sekali lagi saya berkesimpulan bahwa mereka tidak terbiasa menggunakan otaknya. Mereka cenderung membaca dan menelan mentah-mentah apa yang tertulis tanpa berusaha mencari makna yang tersembunyi di balik setiap kata.

Jadi apa artinya ‘Perempuan Tanpa laki-laki Ibarat Ikan Tanpa Sepeda.’ Ada yang gak tau? Hehehehe

Saturday, March 16, 2019

KIROPTEROKORI

Kiropterokori adalah penyebaran alat perkembang biakan berupa spora atau biji tanaman untuk memperluas penyebaran atau agihan tanaman agar bisa dijumpai dimana saja sehingga menjadi tidak punah . Penyebaran alat perkembangbiakan itu bisa sendiri namun bisa juga diperlukan bantuan faktor luar . Misalnya angin , air , manusia ataupun apa saja yang membantu penyebarannya ... yang membantu dituliskan didepan ditambahi Kori ... misalnya angin jadi Anemokori bukan Anginokori OK
Karena penyebaran itu dibantu oleh kelompok Chiroptera salah satu ordo dari kelas Mamalia yang bisa terbang maka disebut demikian. Contoh pada gambar adalah penyebaran biji jambu karena Chiroptera dengan contoh yang menyebarkan adalah Codot. Namanya tentu bukan Codotokori.
Saya nggak ngerti kenapa pendukung Prabowo kok disebut Codot sedangkan pendukung Joko Wi dikenal dengan sebutan Kecebong silahkan anda bertanya bukan dengan saya namun dengan politikus



Codot adalah nama umum bagi jenis-jenis kelelawar pemakan buah. Codot, bersama dengan kalong, nyap, paniki dan sebangsanya, membentuk suku Pteropodidae, subordo Megachiroptera (kelelawar besar). Dalam bahasa Inggris, kelompok ini diistilahkan sebagai fruit bats atau old world fruit bats.

Kebanyakan bangsa codot memiliki mata yang besar, yang memungkinkan hewan tersebut melihat dalam suasana kurang cahaya di hutan, pada saat senja atau dini hari. Indra penciumannya pun bekerja dengan sempurna, membantunya menemukan buah-buah yang telah masak di kejauhan. Dan, berlawanan dengan kelelawar pemakan serangga (Microchiroptera), kelelawar buah tidak menggunakan ekholokasi untuk memandu gerakannya, kecuali anggota marga Rousettus.

Walaupun kelelawar secara umum dapat ditemukan di seluruh dunia, codot hanya ditemukan di daerah-daerah tropis di Asia, Afrika dan Oceania.

Bangsa codot umumnya memakan bagian tumbuh-tumbuhan: buah-buahan, bunga, nektar, serbuk sari, dan juga dedaunan. Ada yang berspesialisasi memakan nektar dan serbuk sari (nektarivora, misalnya Eonycteris, Macroglossus, Syconycteris), namun kebanyakan memakan kombinasi dari buah-buahan dengan bunga, nektar, atau dedaunan (frugivora).[1]

Meskipun kadang-kadang dianggap sebagai hama, codot berperan penting sebagai pemencar biji aneka tetumbuhan, terutama di hutan hujan tropika. Kelelawar ini hanya memakan daging buah yang dikunyah-kunyah untuk diambil cairannya, sementara serabut buah dan bijinya dibuang. Codot biasanya tidak memakan buah di pohonnya, melainkan dibawanya ke pohon lain atau tenggeran yang lain yang dianggap aman dan memakannya di situ. Tenggeran ini bisa berjarak hingga 100–200 m dari pohon buahnya, sehingga secara tidak sengaja codot telah memencarkan biji buah-buahan makanannya itu.[1] Tenggeran semacam itu, yang ditandai oleh banyaknya kotoran kelelawar dan sampah serabut dan biji buah-buahan di bawahnya, acap kali dijumpai pula di bawah atap selasar gedung atau emperan rumah yang agak terasing.

Gambar diatas adalah penyebaran biiji jambu yang dilakukabn Codot dimana hubungan yang terjadi adalah secara Mutualistis. Codot dapat endosperm daging buah dan Jambu nya biji bisa termakan dan keluar dalam beraknya atau jatuh di tanah hingga bisa tumbuh;

Tumbuhan Jambu adalah tumbuhan yang mengandalkan biji sebagai alat perkembangbiakannya ini dapat cukup mudah dikenali dengan kekhasannya yakni adanya alat kelamin (biji) yang jelas terlihat sehingga disebut Phanerogamae. Pada biji terdapat calon individu atau biasa disebut dengan embrio yang nantinya akan tumbuh menjadi tumbuhan baru. Oleh karena dalam proses berkembang biaknya Spermatophyta menghasilkan embrio melalui suatu pembuluh, maka tumbuhan ini disebut juga dengan Embriophyta Siphonogamae


Hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara kelelawar dan tetumbuhan ini tergolong ke dalam simbiosis mutualisma, yang disebut kiropterofili (chiropterophi
DTSTRD

Support web ini

BEST ARTIKEL